Sabtu, 08 Juni 2013

Fairy tale chapter 7 i'm back!





Kiara POV


" Ini..."

" Kalung ini bereaksi lagi,,"

" Rumah.. Aku sangat merindukan rumahku..."

" Mama, papa... "

Dan cahaya putih yang keluar dari kalung itu langsung menyelimuti sekelilingku. Tak terlihat apapun lagi, hanya putih yang menyilaukan.

" Veon..."

" Aku belum sempat berpamitan padanya."

" Maafkan aku Veon. Mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi."

Perlahan, cahaya putih itu mulai memudar. Kiara mulai bisa melihat sekelilingnya.

Ini....

Ini kamarku!!!!!

Kyaaaaa

Akhirnya aku pulang.

" Mamaaaa. papa... Kiara kangen."

" Mama?" Dimana sih, mama kan jarang keluar rumah. Kok ini rumah sepi banget.

Dimana mana tidak ada, apa sempat ya mereka jalan jalan padahal anak mereka ngilang. Huhh, sebel ah!

" Ah, mbok yem.. mama sama papa pada kemana sih?"

" Non Kiara? si non sudah pulang. Ya Allah mbok kwatir banget sama non, apalagi nyonya sama tuan. Nyonya tiap hari nangisss terus kerjaannya."

" Iya, Kiara minta maaf mbok. Tapi mama sama papa kemana? Kiara kangen banget."

" Tadi tuan sama nyonya pergi sama non sarah vina sama non vani. Katanya mau nyari non ke tempat orang yang sudah nyulik non Kiara."

" Nyulik?"

" Iya, namanya... Dani kalau ga' salah non."

" Kiara pergi dulu mbok."

Gawat, mereka mengira aku di culik. Huft.. Wajar sih, aku menghilang lebih dari 24 jam, mereka pasti kwatir.

" Taksi."

Entah ini perasaanku saja atau memang supir taksi itu memandang dengan tatapan "ini orang aneh banget". Sebodo amat. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal sepele seperti itu. Papa pasti sedang marah besar di rumah Daniel. Aku juga harus menanyakan tentang kalung ini.

- - - - - - - - -

" papa?" Oh tuhan... baru kali ini aku melihat papa menangis.

" Kiara..!!!" semua orang di ruangan itu serempak meneriakkan namaku.

" Kiara.. Dari mana saja kamu nak.,,?" Mama dan papa langsung memelukku sambil menangis haru.

" Maafkan Kiara, ma.. pa.. "

" Lo ngilang kemana sih ra? Kita hampir botak muter muter nyariin lo." Ketiga sahabat setiaku itu tak kalah khawatirnya padaku. Aku langsung memeluk mereka bertiga tanda permintaan maafku. Meskipun sebenarnya aku tidak salah. Aku kan ga' kabur. Aku sendiri juga ga' tahu kenapa hal itu bisa terjadi.

Perhatianku teralihkan pada sosok yang sedari tadi tak pernah melepaskan pandangannya dariku.

" Daniel..." Aku melepas pelukan ketiga sahabatku dan menghampirinya.

" Kalungmu.. emm... kenapa bisa jadi begini?" Aku bingung merangkai kata kata.

Tiba tiba...

Grebb...

Apa... ini... kenapa... cowok jutek ini... meluk aku????

" Kenapa kau tak pernah berhenti membuatku khawatir!"

What??? Daniel??? Cowok nyebelin ini khawatir sama aku?

" Maafkan aku Kiara.."

" Ehhmm lo kenapa sih Dan?"

" Mending kita duduk dulu, biar kami jelaskan padamu yang mulia ratu." Kata joseph menengahi.

" Yang... yang mulia ratu??" Apa apaan ini?

" Duduklah dulu nak." Mama mencoba menenangkanku.

 Dan kami pun mengambil tempat di masing masing kursi di ruang tamu itu.

Hening...

Tak ada yang memulai pembicaraan.

" Dan? Sebenarnya apa yang terjadi?" Daniel tampak gelisah. Bingung menjelaskannya padaku.

Hening lagi... Hahhh aku jengah dengan semua hal membingungkan ini.

" Ra? Gue baru sadar. Baju yang lo pake aneh banget sih." Vina yang usil itu tiba tiba angkat bicara. Tak mempedulikan ketegangan di udara malah menanyakan hal nggak penting seperti itu.

Daniel yang seperti tersadar akan sesuatu langsung menatapku dari atas sampai bawah.

" Ini pakaian para peri. Jadi kamu ada di dunia peri?"

" Iya. Kebetulan ada orang baik yang menolongku." Jawabku tersenyum miris. Veon,, Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Aku bahkan belum mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

" Yang mulia ratu, boleh saya mulai bercerita kepadamu?"

" Silahkan om." Aku sudah tak ambil pusing dengan panggilan om Joseph. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


- - - - - - - - - - - -



Veon POV


" Hemmm segar sekali rasanya setelah mandi."

" Tapi... Dimana manusia itu? Apa belum selesai? Huhh dasar perempuan. Mau manusia mau peri semuanya sama. Apa apa serba lama." Ya sudah, aku tunggu saja di depan kamar mandi.

" Veon? Apa yang kamu lakukan disini?" Peri perempuan bersayap hijau terlihat bingung melihatku berdiri di depan kamar mandi wanita.

" ehh,, iya.. Sedang menunggu temanku. Dia sedang mandi di dalam." Jawabku sambil menunjuk arah kamar mandi.

" Aku juga baru saja mandi. Tapi sudah tak ada siapa siapa di dalam. Aku yang terakhir keluar."

Apa?? Jadi kiara dimana?

" Ya sudah, aku tinggal dulu ya."

Tak perlu menunggu lama aku langsung terbang ke atas kamar mandi wanita. Benar, tak ada siapapun disana.

" Hei, apa yang kau lakukan di atas kamar mandi wanita. Mau mengintip?" Peri tua bersayap biru tiba tiba menghardikku.

" Maaf, aku salah jalan." Aku tak menghiraukannya dan langsung terbang pulang ke rumah.

" Kiara,,, pergi kemana kau!"

Aku sudah mencari di setiap sudut rumah tapi Kiara tak ada dimanapun. Aku coba terbang berputar putar di kota tapi tetap tak ketemu dengan sosok yang ku cari.

" Apa yang terjadi padamu Kiara... Dimana kau sekarang."

" Apa kau ketahuan kalau kau ini manusia? Tapi tadi tidak ada keributan apapun disana. Aku pasti tahu kalau kau ketahuan."

" Atau..."

" Kamu sudah kembali ke duniamu Kiara?"

" Hehh.."

" Apa apaan aku ini.. Hiks.. Bisa bisanya aku menangisi manusia itu."

" Biar saja kalau dia pulang. Itu bagus kan. Hiks.."

" Kenapa air mataku keluar terus... hiks.."

" Hiks..."

" Kau bodoh Veon..."

- - - - - - - - - -



Kiara POV



Om Joseph dan Daniel bercerita bergantian menjelaskan semua hal yang mereka ketahui padaku. Aku benar benar shock mendengar penuturan mereka. Apa maksudnya calon ratu? Apa pula perubahan fisik? Apa nanti aku akan punya sayap? Hahhh hal apa lagi itu.

" Aku tidak mau percaya. Kalian pasti berbohong."

" Benar. Kalian pasti berbohong. Ini jaman modern. Mana ada yang namanya peri atau apapun itu. Sekarang Kiara sudah aman disini. Jangan ungkit hal konyol itu lagi." Papa terlihat cemas sekaligus marah. Dia seperti antara percaya  dan tak percaya pada cerita Daniel dan ayahnya.

" Kiara.. kau sudah lihat sendiri kan peri itu seperti apa?"

Aku diam. Lagi lagi aku teringat pada Veon. oh.. peri tampan itu. Apa sekarang kau sedang mencariku?

" Nak, Apa benar kau melihat peri?"

" Benar pa, aku bahkan pernah terbang bersamanya." Jawabku penuh senyum. Mata papa langsung membesar mendengar jawabanku.

Apa ini...??? Tanganku panas. Liontin ini bereaksi lagi.

Aku menoleh pada Daniel ingin mengatakan hal yang kurasakan, Tapi cahaya putih itu keburu keluar dari kalung ini. Sempat kurasakan ada tangan yang menggenggam tanganku erat, entah siapa. Cahaya putih itu sudah menelan sekelilingku.

Dalam sekejap aku sudah berada di dunia peri lagi.

" Ini kan..."

" Rumah Veon.."

" kenapa tidak di padang rumput seperti dulu?"

- - - - - - - - - -


bersambung ya readers..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar