Sabtu, 22 Juni 2013

Fairy Tale Chapter 18







Kiara POV


" Sarah..." Kataku pelan. Aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Daniel tapi tak berhasil. Daniel tak mau melepaskan tanganku darinya.

" Besok pagi aku jemput ya. Kamu harus belajar terbang lagi kan?" Kata Daniel sambil mengusap pelan kepalaku. Tatapannya itu membuatku tak bisa untuk tidak tersenyum meski hatiku di liputi rasa bersalah.

Aku hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.

Tanpa di duga, Daniel mendekat kepadaku dan,,, " aku mencintaimu..." bisik Daniel tepat di telingaku.

Jantungku berpacu dengan cepat. seketika wajahku merona merah. Daniel... sikapnya benar benar berubah. Aku jadi bingung harus bagaimana di depannya.

Daniel mengedipkan sebelah matanya padaku lalu berjalan menuju pintu. " Semuanya, aku duluan ya. Tante, Daniel pamit dulu."

" Iya." Jawab semua orang di ruangan ini serempak.

Aku masih terpaku di tempatku walau Daniel sudah menghilang dari pandangan.

Orang itu... Dari mana dia belajar untuk mengacaukan detak jantung orang lain. Ahhhh, Daniel membuatku gila.

" Kiara bagaimana sayapmu?" Tanya mama membuyarkan lamunanku.

" Ehmm? Itu.. sudah bisa ku kendalikan ma." Jawabku setengah sadar, karena setengah pikiranku terbawa pergi oleh Daniel.

" Duduklah." Pinta mama yang langsung ku turuti.

Aku duduk di kursi di depan sahabat sahabatku dan menggelayut manja pada mama.

" Sudah makan?" Tanya mama perhatian.

" Sudah ma, Alden memberiku steak yang sangat lezat." Jawabku bersemangat.

" Alden? Siapa lagi itu?" Tanya Vina dengan rasa penasaran yang tak pernah padam.

" Pemegang kunci, sama seperti Daniel." Jawabku.

" Jadi? Seperti apa sayapmu itu?" Tanya vina penasaran.

Aku tak mengindahkan pertanyaannya. " Sarah? kamu marah ya? maafkan aku..."

" Tidak apa apa, bukan salahmu kiara." Jawab sarah sambil menyembunyikan air matanya.

" maaf..." Kataku lagi.

" Aku harus terbiasa dengan ini, kalau memang Daniel bahagia bersamamu... aku rela." Kata sarah yang membuatku tak mampu menahan tangis.

Aku langsung menghambur memeluk Sarah. " Maafkan aku.. aku tidak tahu kenapa Daniel jadi begitu." Kataku berbisik di telinganya.

Sarah melepas pelukanku. Tersenyum tipis. " Sudahlah, aku tak ingin membahas ini." Katanya.

" Hemm, kalian akan menginapkan?" Tanyaku yang lebih terdengar sebagai permohonan.

" Tentu." Jawab ketiga sahabatku.

-------------

" Coba perlihatkan sayapmu Kiara, kami kan pengen lihat..." Rengek Vina ketika kami sedang mengobrol ringan di dalam kamarku.

" Iya iya." Kataku sambil membentangkan kedua sayap putihku. Ketiga sahabatku langsung ternganga takjub melihat keindahan sayapku yang bercahaya.

" Cantik.." Bisik sebuah suara tepat disampingku.

Ketiga sahabatku sedang duduk di atas ranjang di depanku, lalu siapa yang berada di sampingku?? Aku langsung menoleh cepat.

" Al??? Kenapa ada disini?" Tanyaku yang heran melihat Alden berada di dalam kamarku.

Aku langsung memasukan kedua sayapku. Dan,, ya.. sekarang ketiga sahabatku sedang terpana melihat sosok iblis tampan yang ada di sampingku ini.

" Ehmm, hanya ingin menyampaikan sesuatu. Tadi siang aku lupa mengatakan hal ini padamu ratuku." Jawab Al sambil tersenyum manis. Entah ini mataku yang salah atau memang Alden terlihat lebih mempesona dari biasanya.

" hahaha." Alden tertawa seakan bisa membaca apa yang sedang ku pikirkan. " Satu pengetahuan umum tentang makhluk di duniaku ratu. Kami, akan berkali kali lipat lebih mempesona pada saat malam." Terang Alden yang langsung ku sambut dengan "oh" tanpa suara.

" Dia siapa ra?" Tanya Vina penasaran.

" Ini Alden, yang kuceritakan tadi. Al, kenalkan mereka sahabatku, yang itu Vina, sebelahnya Vani dan itu Sarah." Kataku sambil menunjuk ketiga sahabatku.

" Senang berkenalan dengan kalian." Sapa Alden sambil membungkukkan badan dengan hormat. Seakan sedang berhadapan dengan seorang Lady dari kalangan bangsawan.

Kegita sahabatku langsung di buat terpukau oleh sikap Alden yang sangat gentleman.

" Jadi? Apa yang ingin kamu katakan Al?" Tanyaku.

" Ayahku mengundangmu ke dunia kami Kiara." Jawab Alden ringan tapi tegas.

Mendadak aku di serang rasa gugup yang sangat besar. " m..memangnya ada apa?" Tanyaku.

" Tidak ada apa apa, hanya sekedar bertamu saja, sekalian mengenalkanmu pada dunia kami." Jawab Alden.

" Kamu akan menemaniku kan?" Tanyaku pada Alden. Aku benar benar tidak suka berada di antara orang orang yang tidak ku kenal.

" hahaha. tentu saja Kiara." Kata Alden sambil mengacak rambutku gemas.

" Kapan aku harus kesana?" Tanyaku lagi.

" Terserah padamu ratuku. Lebih cepat lebih baik." Jawab Alden tersenyum bijak.

" emm, bagaimana kalau besok setelah belajar terbang?" Tanyaku.

" Ide bagus." Jawab Alden tersenyum.

" Baiklah, berarti besok kamu harus menjemputku di istana peri." Kataku ceria.

" Siap ratuku." Kata Alden yang lagi lagi membungkukkan badannya dengan tangan kanan di dada. Huftt dia benar benar tahu bagaimana cara memikat perempuan.

" Apa kamu ini peri?" Tanya Vani tiba tiba. Vina yang biasanya kalem saja memandang Alden dengan tatapan mendamba yang kentara sekali di wajahnya.

" Bukan nona. Saya dari dunia kegelapan. Manusia sering menyebut kami sebagai iblis." Jawab Alden sopan.

Ekspresi ketiga sahabatku langsung berubah pucat. Well, selama ini iblis selalu di kaitkan dengan kata -menakutkan, kejam, jahat-.  Tak heran jika mereka berubah sedikit takut pada Alden.

" Aku tidak menyangka ada iblis setampan ini." Celetuk Vina yang langsung membuatku dan Alden tertawa terbahak. Sedangkan Sarah dan Vani masih setia dengan tampang pucatnya.

" Dia tidak jahat kok. Kalian jangan pasang wajah takut seperti itu." Kataku berusaha merubah image Alden di depan sahabatku.

" Baiklah, aku jelaskan sedikit pada kalian mengenai makhluk di duniaku. Mungkin akan sedikit panjang." Katanya sambil menarik kursi belajarku dan duduk menghadap ranjang. Aku pun duduk di ranjang di samping Sarah.

" Seperti halnya manusia, iblis juga ada yang baik dan ada yang jahat. Sampai sekarang pun begitu. Tetapi dulu, sekitar 800 tahun yang lalu, ada sekelompok iblis yang mencoba sihir sihir berbahaya. Sihir hitam yang paling kelam yang seharusnya tak boleh di gunakan. Bahkan ada di antara mereka yang berhasil membuat gerbang antar dunia terbuka dan mengganggu kehidupan dunia manusia dan dunia peri. Kejadian itu membuat perang pecah di dunia kami. Para leluhur kami mencoba memusnahkan kelompok itu dengan segala cara. Termasuk kutukan kematian, sekalipun sebenarnya itu ilegal." Alden berhenti, terlihat menghela nafas dalam.

" Ilegal?" Tanyaku tak paham.

" Ya ilegal, ada beberapa sihir dan kutukan yang tidak boleh di gunakan oleh kami. semacam undang undang di dunia kegelapan." Terang Al.

" Lanjutkan ceritanya." Kataku lagi.

" Ada 5 iblis, yang ternyata tidak mati setelah terkena kutukan kematian. Dan parahnya, itu membuat mereka hidup abadi. Dan hal terakhir yang bisa di lakukan oleh leluhur kami adalah menyegel mereka di penjara khusus yang tak mungkin di tembus oleh mantra apapun. Dan setahuku, mereka masih disana sampai sekarang." Kata Alden mengakhiri ceritanya.

" Jadi, iblis kejam dan jahat yang selama ini kami yakini adalah mereka yang di segel itu?" Tanya Vani.

" Benar sekali nona." Jawab Al.

" baiklah, sudah malam Kiara. Aku harus kembali." Kata Alden.

" Ya, sampai besok ya." Jawabku tersenyum.

Alden melambaikan tangan pada kami dan detik berikutnya dia sudah menghilang.

" Ra, apa semua iblis setampan itu?" Tanya Vina dengan mata menerawang jauh.

" Entahlah, baru satu itu iblis yang pernah ku lihat." Jawabku sambil berbaring. Lelah rasanya seharian belajar terbang.

" Bagaimana dengan peri?" Tanya Vina masih penasaran.

" Well, aku mengenal 4 orang peri dan mereka semua memiliki paras yang menawan." Jawabku sambil mulai menutup mata. Kantuk sudah menyerangku.

Selanjutnya, aku tak mendengar apapun lagi. Terlelap dalam mimpiku.

- - - - - - - - - - - - - - - -


Alden POV


" Kamu sibuk El?" Tanyaku begitu sudah berada di kamar Elden.

" ugh, kakak! Tak bisakah kau mengetuk pintu dulu?" Protes Elden yang tersedak mendengar sapaanku. Ternyata dia tadi sedang minum saat aku tiba di kamarnya.

" hahaha, maaf." Kataku tertawa senang.

" Ada apa?" Tanya El masih cemberut.

" Tolong sampaikan pada ayah, besok Kiara akan kesini." Kataku.

" Hemm?" Tanya El protes. " Kenapa tidak sampaikan sendiri?" Tanya Elden.

" Aku sibuk El, aku mau menyuruh orang untuk mempersiapkan kedatangan ratu besok. Sudah ya aku pergi dulu." Kataku melenggang pergi tanpa menghiraukan El yang mau memprotes.

- - - - - - - - -


Elden POV



" Huhh, dasar kakak! Bilang saja malas bicara dengan ayah. Selalu aku yang jadi umpan. menyebalkan."

Aku mulai melangkah menuju ruang kerja ayah yang hanya dua pintu dari kamarku.

" Ayah?" Sapaku sambil membuka pintu.

" Ya? El.. Masuklah." Sambut ayah.

" Ayah, tadi kakak bilang kalau besok ratu Kiara akan berkunjung kemari." Kataku menyampaikan pesan kak Alden.

" Benarkah? Wahh, sungguh berita bagus. Kita harus mempersiapkan penyambutan untuk ratu." Kata ayah.

" Kakak sedang melakukannya ayah, makanya kakak tidak bisa menyampaikan langsung kepada ayah." Jawabku.

" hemm, baguslah." kata ayah sambil mengangguk angukan kepalanya pelan.

" Baiklah, El permisi dulu ayah." Kataku sambil melangkah menuju pintu.

" El.." Panggil ayah. Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan menghadap ayah.

" Jangan lupa akan tugasmu. Kamu harus membuat ratu jatuh cinta padamu." Kata ayah tegas.

Aku tidak menjawab. hanya membungkuk memberi hormat dan berbalik keluar menuju kamarku.
Ayah benar benar tidak mau menyerah dengan hal itu.

Aku melanjutkan membaca buku yang tadi sempat terhenti gara gara kak Alden. Aku sedang meningkatkan kemampuan sihirku untuk memperbaiki perisai yang kemarin jebol. Huftt sihir kuno benar benar susah di pelajari. Aku heran kenapa Filia bisa dengan mudah mempraktekkan sihir sihir kuno yang tak sengaja dia dapatkan hanya dengan sekali mencoba. Mungkin dia benar benar berbakat.

" El.." Lagi lagi kakak masuk kamarku tanpa mengetuk pintu.

" Ada apa lagi?" Tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari buku.

" Sudah kamu sampaikan pada ayah?" Tanya kakak.

" Sudah." Jawabku masih dengan berkonsentrasi pada bukuku.

" El.." Kata kakak, tapi dia terlihat sengaja menggantungkan kalimatnya.

" Hemm?" Tanyaku yang mau tak mau mengalihkan pandangan dari buku dan menatap kakakku penasaran.

" Aku tahu ayah masih menyuruhmu untuk mendekati kiara." Aku tersentak, aku menuruti kata kata ayah untuk tak mengatakan apapun pada kakak. Harusnya kakak tidak tahu mengenai ini.

Aku memilih diam, menunggu kakak melanjutkan kata katanya.

" Percayalah padaku El, ratu bukan orang yang bisa kamu permainkan." Kata kakak.

" Benarkah? Apakah dia player?" Tanyaku sedikit jahil. Baiklah,, aku memang playboy. Tapi aku tak pernah mengambil kesempatan pada gadis gadis. Aku begitu hanya karena gadis gadis yang selalu menempel kepadaku. Tak ada salahnya kan berkencan dengan salah satu dari mereka. Selama tak ada yang merasa di rugikan.

" Bukan! Justru dia sangat polos dan,,, rapuh."

Eh?? Gadis polos ya? Aku memang belum pernah berhadapan dengan gadis seperti itu. Kebanyakan dari mereka yang mendekatiku adalah gadis gadis haus kekuasaan yang berharap bisa menjadi anggota kerajaan dengan menjadi istriku. Aku bahkan salut pada kak Alden yang entah bagaimana selalu bisa menghindar dari gadis gadis menyebalkan itu.

" El.. berjanjilah padaku jangan coba coba mendekati ratu." Kata kakak.

" Tapi ayah menyuruhku begitu." Jawabku.

" Jika kamu mendekatinya... Bukan ratu yang akan jatuh cinta padamu tapi KAMU yang akan jatuh cinta pada ratu." Kata kakak.

Semempesona itukah dia? Hemm menarik.

" Aku akan hati hati kak." Kataku.

" Aku lebih senang kalau kamu mengatakan "aku tidak akan mendekatinya kak"." Kata kak Alden yang langsung membuatku tertawa.

" hahaha, maaf kak. Aku janji aku tidak akan melukainya. Aku hanya akan mendekatinya sebagai teman. kalau nanti dia tetap jatuh cinta padaku. Aku tidak salah kan? Ibu melahirkanku dengan pesona yang sangat memikat." kataku.

" Cihh menyebalkan. Sudahlah sebaiknya kita tidur." Kata kakak tersenyum lebar.

- - - - - - - - - - -


Kiara POV


Huaaaahhhh benar benar menarik.

Ini pertama kalinya sejak sekian lama saat aku merasa sekolah benar benar hal yang sangat menyenangkan.

Fiuhhh, rasanya ketegangan beberapa hari ini membuatku merasa "normal" saat di sekolah. Benar benar melegakan. Mendengarkan guru berceramah yang biasanya membosankan, entah bagaimana hari ini terasa begitu menarik. Dan bercanda bersama teman teman sekelasku juga terasa sangat mengasikkan. Di tambah lagi Daniel, dengan "perubahan sikapnya" benar benar membuatku nyaman.

" Jadi, kamu mau langsung ke dunia peri atau pulang dulu?" Tanya Daniel ketika kami sedang berjalan pulang.

" Pulang dulu, aku mau berpamitan pada mama, lagipula,,, aku laparrr. kamu tahu sendiri kan makanan peri seperti apa?" Kataku.

" Hahaha, benar juga. baiklah aku juga mau pulang dulu. Satu jam lagi aku ke rumah mu ya." Kata Daniel.

" Okay." Jawabku sambil tersenyum manis.

- - - - - - - - - - -


" Veon..." Panggilku ketika aku dan Daniel sudah berada di dunia peri. Veon sedang duduk berdua dengan Caith di taman di depan kamar Caith.

" Hai,,," Sapa Veon dengan senyum menawan yang tak pernah pergi dari wajahnya.

" Hari ini kita belajar apa?" Tanyaku antusias. Sejak pagi aku belum mengembangkan sayapku sekalipun. Rasanya sudah ingin terbang.

" Tentu saja terbang lagi Kiara... Agar kamu terbiasa." Jawab Veon sambil mengacak rambutku gemas.

" Ayo." Kataku tak sabar.

" Baiklah Kiara, aku akan mengobrol dengan Caith, nanti kalau sudah selesai kamu tinggal mencariku di kamar Caith." Kata Daniel.

" Ehmm Daniel, nanti setelah belajar terbang, Alden memintaku ke dunia kegelapan. Dia bilang ayahnya mengundangku kesana." Kataku.

" Benarkah? Kenapa Al tidak mengatakan apapun padaku?" Tanya Daniel lebih pada dirinya sendiri.

" Mungkin lupa. Dia juga menyampaikan padaku saat sudah malam. Dia bilang lupa." Jawabku.

" Kemarin Alden ke rumahmu?" Tanya Caith.

" Iya." Jawabku.

" Ya sudah, biar nanti ku temani ke tempat Alden." kata Daniel.

" He'em." Jawabku sambil menganggukan kepala.

" Ayo Kiara, kita terbang." Ajak Veon yang sudah mulai melayang dengan sayap coklatnya.

Aku langsung membentangkan kedua sayapku dan melesat terbang ke depan. Aku sudah meminta Veon untuk menunjukkan tempat tempat yang indah di dunia peri.


- - - - - - - - - - - -


Alden POV


" Apa semuanya sudah siap?" Tanyaku pada kepala pelayan di istana.

" Sudah yang mulia, semua sudah terhidang di meja makan." Jawab Rey, kepala pelayan kami.

" Ruang keluarga juga sudah rapi kan?" Tanyaku. Aku memang tidak mengadakan pesta untuk kedatangan Kiara, hanya makan malam bersama dan mengobrol hangat dengan keluargaku. Tapi aku tetap harus memastikan semuanya sempurna.

" Sudah yang mulia." Jawab Rey.

" Baiklah." Jawabku sambil melangkah menuju kamar orang tuaku.

" Ayah?" Sapaku sambil mengetuk pintu kamar ayah.

" Ya Al, masuklah." Sambut ibuku.

Terlihat ayah dan ibu sedang mempersiapkan penampilan terbaik mereka untuk menyambut Kiara.

" Ayah, ibu, ini hanya makan malam. Kenapa kalian memakai baju semewah itu?" Tanyaku sebab.

" Al, bagaimanapun dia ratu tiga dunia. Kita harus menghormatinya. Salah satunya dengan cara menampilkan diri kita sepantas mungkin." Terang ayah. Ya... ayahku memang perfeksionis.

" baiklah baiklah. Aku akan menjemput Kiara dulu." Kataku kemudian.

" Al! kau juga harus memakai pakaian yang pantas." Kata Ayah.

" Iya..." Jawabku sambil menutup pintu. Dengan malas aku kembali ke kamarku dan berganti pakaian. Huhh, Caith pasti akan menertawakanku.

- - - - - - - - - - -


Kiara POV


" Wahhhhh....." Aku meluapkan rasa senangku dengan berteriak kencang.

Tempat ini benar benar indah. Sebuah danau jernih terhampar di depanku. Dari tepian sini bahkan aku bisa melihat tanaman tanaman air yang tumbuh menghijau di dasar danau. Dan lagi... di seberang Danau terhampar sebuah taman bunga yang sangat luas. Aneka bunga warna warni yang memang sengaja di tanam tumbuh subur dan cantik. Benar benar pemandangan yang menakjubkan.

" Kamu suka?" Tanya Veon.

" Sangat." Jawabku memandangnya sekilas dan kembali mengalihkan pandanganku pada hamparan keindahan di depanku.

" Ini belum apa apa Kiara, masih banyak hal menakjubkan yang belum kau lihat di dunia peri." Kata Veon.

" Benarkah?" Tanyaku dengan mata berbinar.

" iya. Kamu pasti belum pernah lihat pegasus kan? lalu pemukiman peri hutan? Ahh, masih banyak lagi." Kata Veon dengan senyum bangga.

" Aku harus melihatnya. Veon. Berjanjilah kamu akan memperlihatkan semuanya padaku," Kataku.

" Tentu." Jawab Veon.

Lama kami terdiam memandangi pesona alam di hadapan kami. Suasana di sini sangat menenangkan.

" Ve..." Panggilku.

" Ya?" Sahutnya menatapku lembut.

" Tentang pesta pengangkatanku... Apakah aku bisa mengadakannya disana?" Tanyaku sambil menunjuk taman bunga di seberang danau.

Veon tak langsung menjawab tanyaku. Dia menatapku dalam.

" Tentu." Jawab Veon akhirnya. " Itu taman bunga milik ibu. Ibu pasti akan sangat senang mendengar ini Kiara. Suatu kehormatan bagi kami jika ratu bersedia mengadakan pesta di dunia kami." Lanjut Veon.

" Terima kasih." Kataku tersenyum samar. Entah apa, tapi aku merasa ada nada getir di dalam suara Veon.

Hening kembali menyelimuti kami. Kali ini lebih lama dari sebelumnya.

" Sudah selesai belajarnya?" Tanya Alden yang dengan tiba tiba berada di depanku. " Ahhh!" Tiba tiba Alden berteriak dan menghilang dari pandangan.

" Alden?" Panggilku sambil mengedarkan pandanganku mencarinya.

Ternyata dia berpindah ke bawah pohon tak jauh di belakang kami.

" Kamu kenapa?" Tanyaku sambil berlari menuju Alden.

" Aku tidak tahan dengan sinar matahari." Jawab Alden sambil meringis menahan sakit.

Seluruh kulitnya berwarna merah muda. Dia terlihat kesakitan.

" Bisakah kita ke duniaku sekarang?" Tanya Al menahan sakit.

" Uhmm, baiklah." Jawabku. " Veon, aku pergi dulu."

Alden langsung menggenggam tanganku dan seketika kami sudah berada di dunia kegelapan.
Oh tidak... Aku lupa kalau Daniel masih menungguku di istana peri.

" Tunggu disini sebentar ya, aku mau mencari obat dulu." kata Alden sambil meninggalkanku di kamarnya.

Aku melihat sekeliling. Kamarnya masih sama dengan terakhir kali aku masuk kemari secara "tidak sengaja".

Ehh? Kenapa diluar sudah gelap? Bukankah tadi aku kemari hari masih terang?

uh, aku jadi teringat pada Daniel.

Ahhh, kenapa aku bisa lupa kalau Daniel masih di istana peri. dan lagi... Dia disana
MENUNGGUKU..

huftt, aku merasa bersalah padanya...

" Kiara.." Sapa Alden yang sudah kembali ke kamar.

" Bagaimana keadaanmu?" Tanyaku cemas.

" Tidak apa apa, hanya sedikit terbakar. Tapi sudah hilang sakitnya." Jawab Alden sambil memperlihatkan tangannya yang sudah kembali normal.

" Kenapa bisa seperti itu? Apa memang semua iblis akan mati jika di bawah sinar matahari." Tanyaku.

" Hemm, secara tidak langsung memang benar seperti itu. Tapi juga tidak semudah itu. jika kami berada di bawah sinar matahari tanpa perlindungan apapun selama kurang lebih 5 jam, maka kami akan mati dan hilang menjadi abu. Tapi,,, aku tak sebegitu bodohnya sampai berdiam diri di bawah terik matahari menunggu kematianku kan?" Jawab Al.

" Begitu ya,, Tapi,, kamu biasa berkeliaran saat siang?" Tanyaku bingung.

" hahaha, itu tidak apa apa, asal aku tidak terkena sinar matahari langsung." Jelas Alden.

" Oh,, Apa aku nanti juga akan seperti itu?" Tanyaku.

" ehmm, aku tidak tahu ratu, mungkin iya, tapi tidak separah itu karena ratu juga peri dan manusia yang kebal sinar matahari. Mungkin hanya sedikit iritasi." Jawab Alden.

Tok tok tok

" Ya?" Jawab Alden.

" Raja sudah menunggu anda yang mulia." Kata seseorang dari balik pintu.

" Baik." Jawab Alden. " Sudah siap Kiara?" Tanya Alden.

Tiba tiba aku di serang rasa gugup yang teramat sangat.

" Uhm,, eh,, ya.." Jawabku dengan senyum tanggung." Ehm, tapi, seperti apa keluargamu?" Tanyaku. Setidaknya aku harus punya gambaran tentang mereka agar aku tidak mempermalukan diri sendiri.

" Hahaha, kamu tegang ya? Aku akan terus di sampingmu, jadi tenanglah." Kata Alden sambil memegang kedua bahuku. Well, sedikit melegakan. " Ehm, ayahku orangnya to the poin, jadi kalau dia bertanya padamu, usahakan jawab tepat sasaran, kalau ibuku.. dia sangat lembut. Tak jauh berbeda dengan mamamu. Ada lagi dua adikku, tapi mereka bukan masalah, kamu pasti akan menyukai mereka." Terang Al.

Fuhhhh, Aku menghela nafas dalam. " Baiklah, aku siap." Kataku.

" Tunggu dulu, Immutare..." Kata Alden. Dan seketika bajuku berubah menjadi dress panjang sampai mata kaki dengan warna Fusia polos dengan kerutan di sekitar pinggang. Lagi lagi Alden memberiku pakaian yang sangat cantik.

" Terima kasih." Kataku pada Alden.

Alden menyambar tuxedo hitam yang tersampir asal di sofa dan memakainya.

Dan,,,, ketampanannya semakin terpancar dengan setelan lengkap. Dia benar benar iblis yang sangat memikat.

" Ayo." Kata Alden sambil memberikan lengannya untuk ku gandeng. Aku benar benar menyukai caranya memperlakukan wanita.

Dan kami berjalan menuju ruang keluarga dimana keluarga Alden sudah menunggu kami.

- - - - - - - - - - - - - - -


Author POV


" My Lord." Sapa Wirtz pada ratunya yang sedang berdiri memandang keluar jendela.

Wanita itu terlihat menawan dalam balutan dress hitam pekat sehitam malam.

" Apa yang ingin kau katakan?"

Tanya wanita itu dengan nada dingin yang intens.

" Ratu tiga dunia,,, dia belum sepenuhnya jadi ratu,, masih calon. my lord." Jawab wirtz

" Kau yakin?" Tanya wanita itu.

" Ya. Saya mendengarnya sendiri, dia ingin mengadakan pesta pengangkatannya di taman bunga ratu Kayla." jawab Wirtz menunduk.

" Bagus." jawab Wanita itu dengan masih tetap memandang keluar jendela. " Cari tahu kapan harinya." Perintah wanita itu.

" baik, my lord."



* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

To be continue...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar