Sabtu, 08 Juni 2013

Fairy tale chapter 10 the twins









Daniel POV


Veon... Kenapa dia harus jatuh cinta pada Kiara. Dia sudah seperti adikku sendiri.

Ahhh,,, suasana ini membuatku sulit bernafas!!

Entah bagaimana, tubuhku seperti bergerak sendiri. Tiba tiba saja aku menarik tangan Kiara dan membawanya kembali ke dunia manusia. Aku bahkan tak mempedulikan protes Kiara padaku. Dan lagi, aku tak berkata apapun pada Caith dan Alden. Entah apa yang ada di pikiran mereka sekarang karena tingkahku. Yang aku tahu, aku harus segera pergi dari suasana menyesakkan ini.

 Kami tiba di rumahku, tepatnya kamarku. Kali ini Kiara masih bersamaku, tak terpisah seperti yang sebelumnya.

" Kenapa kamu selalu seperti ini Daniel? Apa salahku padamu? Kenapa kamu tak pernah sekalipun bersikap baik padaku?" Kiara terlihat marah kepadaku.

" Apanya yang kenapa? Kita memang harus pulang, keluargamu pasti khawatir." Jawabku mengelak.

Ya! Mungkin aku salah. Aku memang pengecut. Sudah tiga tahun tapi aku tak pernah berani menyatakan cinta padanya. Aku hanya bisa menutupinya dengan sikap menyebalkan.

" Kau menyebalkan!" Teriak Kiara sambil berlari keluar kamarku.

" Ayo Daniel, kejar dia." Bisik hatiku. Tapi tubuhku hanya diam mematung. Aku ragu. Aku terlalu takut. Entah apa sebenarnya yang ku takutkan.

" Kiara." Aku mendengar teriakan dari arah ruang tamu. Apa yang terjadi? Apa keluarga Kiara masih disini?

Aku berjalan keluar kamarku menuju ruang tamu. Benar saja, keluarga dan sahabat sahabat Kiara masih disini.

" Mama papa, kenapa masih disini?" Tanya Kiara pada kedua orang tuanya.

" Bagaimana kami bisa pulang ke rumah sedangkan anak kami menghilang begitu saja di depan mata kami." Jawab mama Kiara sambil memeluk anak semata wayangnya itu.

" Nak, kenapa tadi kamu tiba tiba lenyap dari hadapan kami?" Tanya papa Kiara dengan suara bergetar.

" Semua yang di ceritakan Daniel benar yah. Ada dunia lain selain dunia kita. Dan mungkin benar kalau Kiara itu calon ratu." Jawab Kiara dengan wajah sendu

Papa dan mama Kiara kembali memeluk anak tercintanya itu dalam isak tangis. Kenapa harus menangis? Jadi seorang ratu bukanlah hal yang harus di tangisi.

" Ayo pulang ma, Kiara pengen istirahat." Kata Kiara sambil bersandar di bahu mamanya.

" Iya sayank." Jawab mamanya penuh cinta.

" Sarah, Vina, Vani, kalian nginep di rumahku ya. please..." Kata Kiara dengan tatapan memohon kepada tiga sahabatnya itu.

" Tentu." Jawab mereka bertiga serempak.

" Ya sudah, kami pulang dulu ya pak, bu." Kata mama Kiara pada orang tuaku.

" Kiara pamit ya om, tante." Kata Kiara dengan senyum khasnya. Tapi.. Kenapa dia tak pamit padaku? Apa dia semarah itu? Atau, aku memang keterlaluan?

" Kami pulang ya, Ayo Daniel." Kata Vina dengan khas nya yang selalu ceria.

Kiara sedikitpun tak memandang ke arahku. Kiara, tolong jangan bersikap seperti ini padaku. Hatiku sudah cukup sakit tanpa perlu kamu tambahi dengan sikap dinginmu itu.

- - - - - - - - - - -


Sarah POV



Hehh,, Apa aku harus berhenti sebelum berperang?

Sebenarnya kenapa keadaan selalu membuat posisiku seperti ini?

Selalu Kiara, selalu saja Kiara yang jadi pusat perhatian.

Tak apa, aku tak pernah keberatan dengan itu. Dia memang yang paling sempurna di antara kami berempat.

Tapi...

Sekarang,,

kenapa Danielku juga harus lebih memperhatikannya..

Cinta pertamaku..

Kenapa dia juga lebih "melihat" Kiara daripada aku.

Dia bahkan juga menjadi Ratu??

Hahhh..

Kiara benar benar di kelilingi kebahagiaan.

Apa semua orang selalu lebih menyukai gadis manja yanag selalu tersenyum manis?

Lalu bagaimana denganku?

Apa aku yang hanya sedikit lebih tomboy ini tak patut di perhatikan?

Aku benar benar menyedihkan.

- - - - - - - - - - - -


Kiara POV


 " Jadi??? Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Vina begitu kami berempat tiba di kamarku.

" Seperti yang di katakan Daniel dan ayahnya tadi. Mungkin aku benar benar calon Ratu. Aku sendiri tidak begitu yakin sih."

" Ra? Sejak kapan lo pake bahasa aku kamu?" Tanya Vina ekspresi lucunya itu. Dia selalu begitu, tak mempedulikan suasana apapun, selalu ada saja yang dia komentari. Dia dapat mengembangkan senyum siapapun dalam suasana apapun.

" Hehehe, iya ya, kok aku kebawa gini sih sama bahasanya Veon." Jawabku cengengesan.

" Tu kan, aku lagi." Kata Vina lagi.

" Veon? siapa tuh?" Tanya Vani penasaran.

" Ehmmm....." Aku sengaja menggantung kalimatku, rindu sekali rasanya untuk bercanda dengan sahabat sahabatku. Meski hanya 2 hari, rasanya sudah seperti berminggu minggu.

" Siapa ra???" Tanya Vina dan Vani berbarengan.

" Seseorang yang menolongku ketika aku pertama datang ke dunia peri." Jawabku penuh senyum. Mengingat Veon memang selalu menyenangkan.

" Dunia peri?" Tanya Vina dan Vani serempak.

Bukannya menjawab pertanyaan si kembar, aku lebih berfokus pada Sarah.

" Sarah? Lo kenapa? Dari tadi cuma diem saja?" Tanyaku.

" Iya ya, aku baru nyadar dari tadi lo cuma diam sa." Celetuk Vina.

" Jelas ga' sadar. Kan sekarang Kiara yang sedang dapat perhatian." Jawab Sarah ketus. Kenapa dia?

" Lo kenapa si sa? Ga biasanya lo seperti ini. jelas kita merhatiin Kiara, dia baru saja hilang. HILANG. Dan baru kembali. Emang lo ga' penasaran apa yang terjadi sama dia kemaren?" Tanya Vani dengan arif.

" Iya hilang! Begitu pulang sudah jadi ratu!" Jawab Sarah lebih ketus lagi.

" Sarah?" Vani menatap heran pada Sarah.

Sarah hanya membuang muka, terlihat jelas gurat gurat kemarahan di wajah sarah. Hening menyelimuti kami berempat.

" Lo suka sama Daniel kan?" Tanyaku memecah hening.

Ketiga sahabatku langsung menoleh padaku.

" lo marah karena gak suka gue deket sama Daniel kan sa?" Tanyaku lagi.

" Jangan asal ngomong." Kata Sarah kembali membuang muka.

" Gue tahu sa. Kita sahabatan sudah dari kecil. Gue sudah hapal sifat dan kebiasaanmu. Gue sudah ngerasa, sikap lo beda ketika ada Daniel. Lebih lebih sekarang. Sudah jelas lo suka dia." Kataku di susul oleh kerjapan si kembar tak percaya. Sarah hanya diam membisu.

" Lo beneran suka sama Daniel sa?" Tanya Vina.

Sarah masih tetap diam. Kami bertiga jadi ikutan diam. Sepakat menunggu sarah bicara.

" Daniel tu cinta pertama gue." Kata sarah akhirnya. si kembar langsung melotot kaget.

" Serius lo sa? Cowok jutek itu?" Tanya Vina

" Dia sebenernya nggak jutek kok, cuma Kiara saja yang bilang bilang dia jutek." Jawab sarah acuh.

" Iya memang, aku juga kadang sebal, dia itu dari kelas satu sampai sekarang kita kelas tiga selalu saja ga pernah ramah sama gue." Jawabku.

" Terlepas dari dia jutek apa tidak, dia memang keren sih..." Kata Vina senyam senyum ga jelas.

Hening kembali menyelimuti kami berempat.

Aku mengambil tangan sarah, menggenggamnya erat meski sarah sempat protes.

" Sarah, percaya sama aku, aku sedikitpun tidak punya perasaan apapun sama Daniel. Jadi jangan khawatir. Aku ga' akan merebutnya dari mu." Kataku lembut sambil menatap dalam mata sarah.

" Ra..." Panggil sarah dengan mata basah, hampir menangis.

Aku hanya menjawabnya dengan senyum.

" Maafin gue ra, gue iri banget sama lo. Lo selalu di kelilingi kebahagiaan. Beda sama gue." Kata sarah sedikit terisak.

" Itu karena lo cuma lihat gue." Kataku tersenyum. sarah memandangku penuh tanda tanya.

" Kan tadi kamu bilang semua orang cuma merhatiin aku. Lha kamu sendiri juga cuma merhatiin aku. Buktinya, kamu ngiri sama aku kan? Itu karena kamu tidak mermperhatikan apa saja yang sudah ada padamu." Kataku lembut. Sahabatku yang malang, pasti dari tadi dia sangat tersiksa.

Sarah hanya menunduk mendengar ucapanku.

" Sarah, semua orang pasti sudah di bagi antara kebahagiaan dan cobaan sesuai porsinya. Jadi kita nggak perlu saling iri." Kata si bijak Vani sambil memeluk sarah.

" Maafin gue ra." Kata sarah di sela sela isaknya.

" Ga papa, Ayo tidur, cape banget rasanya." Kataku yang di susul anggukan dari ketiga sahabatku.

- - - - - - - - - - -


Alden POV


" Ayah," Panggilku pada ayah yang sedang duduk mengantuk di meja kerjanya.

" Hem." Sahut ayah dengan mata masih terperjam.

" Aku baru saja bertemu dengan ratu." Kataku ceria, karena aku memang sangat senang bisa bertemu dengan ratu. tak semua pemegang kunci bisa bertemu ratu, karena ratu hanya muncul setiap seribu tahun sekali.

" Bukankah setiap hari kau bertemu dengan ibumu." Jawab ayah yang belum paham dengan maksudku. Ya, sama seperti keluarga Caith, kami di dunia gelap, pemegang kunci juga jadi keluarga kerajaan disini. Tahta di wariskan turun temurun dari leluhur kami. Hanya dunia manusia saja yang berbeda.

" Yang ku maksud ratu bukan ibu yah, tapi ratu tiga dunia." Jawabku sedikit merajuk, baiklah aku akui, aku memang sedikit manja pada ayah dan ibuku. Tapi hanya "sedikit".

Ayah langsung membelalakan mata yang tadinya mengantuk dan menatapku tak percaya.

" Kau benar benar bertemu ratu 3 dunia?" Tanya ayah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

" He em." Jawabku singkat.

" Dia sangaaatttt cantik yah." Kataku dengan senyum mengembang.

" Jadi ratu sekarang sudah muncul. Sudah seribu tahun...." Ayah terlihat menerawang.

" Iya, dan dia sangat manis. hahhh, pasti setelah ini hari hari jadi pemegang kunci tidak akan membosankan lagi." Kataku kemudian masih dengan senyum mengembang.

" Apa kau menyukainya Al?" Tanya ayah penuh selidik.

" Tentu. Dia sangat cantik dan juga menyenangkan. Siapa saja pasti akan menyukainya."

Ayah terlihat kaget dengan jawabanku.

" Aku hanya menyukainya yah, bukan jatuh cinta padanya. Aku tahu peraturannya, pemegang kunci tidak boleh menikah dengan ratu. Begitu kan?"

Ayah hanya mengangguk arif.

" Dia berasal dari dunia mana?" Tanya ayah kemudian

" Dunia manusia, keberadaannya di ketahui berkat kecerobohan Daniel. Dia menitipkan liontin bintang pada Kiara, tak di sangka liontin itu bereaksi padanya. Dari situlah jati dirinya sebagai ratu di ketahui." Tuturku sesederhana mungkin.

" Lalu, dimana ratu tiba saat pertama kali menggunakan kunci?" Tanya ayah penasaran.

" Dunia peri. Dan hebatnya secara tidak sengaja Veon lah yang menemukannya. Untung bukan peri lain. kalau tidak, entah bagaimana nasib ratu sekarang."

" Veon?" Tanya ayah

" Iya.. Ayah, kau tau, Veon jatuh cinta pada ratu, dia sudah bertemu ratu sejak awal dan jatuh cinta. Dia jadi kena marah Caith begitu tahu kalau Kiara itu adalah ratu." Ceritaku panjang lebar. Aku memang terbiasa menceritakan apapun pada ayahku. Ayah adalah teman curhat yang menyenangkan.

" Apa?" Tanya ayah terbelalak. " Bagaimana bisa seorang peri jatuh cinta pada manusia?"

" Tidak tahu, kenyataannya begitu." Jawabku ringan.

" Apa kau pikir itu mungkin? Bukankah peri punya hukum mutlak tentang jodohnya. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada orang yang bahkan tidak punya sayap." Kata ayah dengan ekspresi yang menurutku menyebalkan.

" Bukankah ratu nantinya juga punya sayap?" Kataku.

" Ayah tahu. Tapi rasanya janggal ada peri jatuh cinta pada manusia." Kata ayah masih dengan ekspresi yang sama.

" Apa yang sedang ayah coba katakan padaku?" Tanyaku sebal.

" Menurut ayah, cinta Veon hanya rekayasa. Dia tahu Kiara itu calon ratu makanya dia bilang jatuh cinta padanya. Agar dia bisa memiliki sang ratu untuk kepentingan dunia peri." Jawab ayah yang seketika membuatku marah.

" Veon bukan orang seperti itu. Aku mengenalnya sejak kecil. Dia sudah seperti adikku sendiri." Kataku sambil langsung meninggalkan ruangan ayah.

Ayah memang begitu, kadang kadang sifat buruknya keluar. Selalu berprasangka buruk pada orang. Itu sifat yang paling tidak kusukai dari keluargaku. Untung aku lebih mewarisi sifat ibu yang sangat lembut.

" Ahhhhhh... Aku butuh udara segar."

" Lebih baik aku ke tempat Daniel."

 - - - - - - - - - - - - - -


Author POV


" Ayah memanggilku?" Tanya seseorang dari balik pintu kepada raja Anthoni, Ayah alden.

" Iya, kemarilah nak." Kata raja Anthoni

" Ada apa?" Tanya anaknya yang sekarang duduk di hadapannya. Wajah anak itu sama persis dengan Alden.

" Kau tahu tentang ratu tiga dunia kan?" Tanya raja anthoni.

" Tahu ayah." Jawab Elden. Saudara kembar Alden.

" Sekarang sang ratu sudah muncul." Kata raja Anthoni.

" Benarkah?" Tanya Elden dengan senyum merekah. Bahkan ekspresi wajahnya pun sama dengan Alden.

" Ayah punya tugas untukmu." Kata raja anthoni.

" Kenapa kakak belum cerita padaku, wahhh apa sang ratu cantik ya?? Aku tak sabar ingin melihatnya." Gumam Elden tak mengindahkan kata kata ayahnya.

" Ayah sedang bicara padamu nak." Kata raja anthoni sedikit gusar dengan tingkah putranya.

" Ah,, maaf ayah, aku terlalu senang jadi lupa sedang berhadapan dengan ayah." Kata pemuda itu dengan senyum polos.

" Ayah ingin kau melakukan sesuatu untuk dunia kita." Kata raja anthoni kemudian.

" Apa itu?" Tanya Elden kelihatan tak sabar. Meski terlihat sedikit kekanakan. Bagaimanapun dia adalah pangeran. Jadi dia sangat peduli pada dunianya.

" kau... Dekatilah sang ratu. Buatlah dia jatuh cinta padamu." kata raja anthoni dengan menatap lurus mata Elden.



* * * * * * * * * * *



Tidak ada komentar:

Posting Komentar