Rabu, 26 Juni 2013

Fairy Tale Chapter 20 I know you love him



Author POV


" My lord, Dean dan Carra sudah datang." Kata Wirtz kepada ratunya.

" Dean, Carra, kemarilah." Kata Lamia, sang ratu, dengan nada sedingin es.

 Kedua orang itu langsung maju mendengar namanya di panggil.

" Dean, kau harus menyusup ke istana peri. Menyamarlah jadi salah satu pekerja disana. Pantau keadaan istana dan laporkan apa saja yang menurutmu perlu." Kata Lamia masih dengan sedingin es.

Pemuda itu mengangguk hormat. Rambut coklatnya yang sedikit panjang menjuntai ke dahinya seiring kepalanya bergerak.

" Akan saya laksanakan yang mulia." Jawa Dean. Pemuda tinggi ramping itu mundur beberapa langkah setelah menerima tugasnya. Gerakannya seringan kertas. Tak terdengar sama sekali langkah kakinya.

" Dan kau Carra. Kau harus terus mengekori pangeran Caith kemanapun dia pergi. Korek sebanyak mungkin informasi darinya. Aku akan mengubah sayap kuningmu menjadi warna emas. Pangeran Caith akan berpikir kalau kau adalah jodohnya." Kata Lamia dengan senyum licik.

" Mengerti my lord." Jawab gadis cantik bermata biru safir itu. Dia sama dengan Dean, gerakannya seringan kertas. Sepertinya mereka sudah terlatih untuk menjadi mata mata.

" Wirtz, kau kumpulkan semua bahan untuk pemujaan. Agar saat harinya datang kita sudah siap."

" Baik my lord." Jawab lelaki tua itu. Sepertinya dia orang kepercayaan Lamia.

" Pergilah, laksanakan tugas kalian dengan benar."

.....


" Jadi, kau mendapatkan tugas yang menyenangkan huh?" Tanya Dean kepada Carra saat mereka sudah berada di luar kastil.

" Ya, menggoda pangeran sepertinya tidak buruk." Jawab Carra.

" Pastikan dia tidak menyentuhmu Carra, karena aku akan sangat cemburu." Kata Dean.

" Kau tahu itu tak bisa di hindari Dean. Kau lupa bagaimana pertama kali kita bertemu? kau langsung menciumku kan? Aku penasaran bagaimana nanti reaksi pangeran caith saat melihatku dengan sayap emas." Kata Carra tersenyum manis.

" Sudahlah ayo kita pulang ke rumah." Kata Dean.

Dan mereka berdua membentangkan sayap lalu terbang. Dean dan Carra, sayap mereka berwarna kuning redup, dengan untaian garis garis hitam yang membentuk corak yang sangat mirip.

Ya,... Mereka sepasang kekasih.

- - - - - - - - - - - - - - -


 Kiara POV


Ini sudah lewat tengah malam tapi aku belum bisa tertidur.

" Hahhhhh." Daniel benar benar telah menguasai pikiranku.

Rasa bersalah karena meninggalkannya begitu saja tadi siang benar benar memenuhi hatiku. Apa yang harus aku katakan padanya besok? Dia pasti marah.

Aku mengalah, percuma berusaha tidur kalau mata sedikitpun tidak mau terpejam.

Ku buka jendela kamarku membiarkan angin segar masuk menerpa wajahku. Ku ambil buku tebal yang tergeletak di atas meja belajarku. Kamus bahasa latin yang di berikan oleh ratu Esme sebagai oleh oleh.

Kata Alden, sihir hanya akan merespon bahasa Latin. Entah karena apa, mungkin leluhur para iblis berasal dari dari sana?

Jadi,,, aku harus berjuang keras menghapalkan seluruh kata bahasa latin agar aku bisa mempraktekan sihir dengan baik. Benar benar ribet! Kenapa tidak memakai bahasa sendiri sendiri saja? Bagaimana kalau aku salah sebut pengen buat air dingin ternyata yang ku sebut air panas?

" Kalau kamu ragu, lebih baik jangan katakan." Itu pesan ratu Esme saat memberikan buku ini.

Belum lagi ada beberapa yang memiliki aturan khusus, seperti sihir untuk bertempur, gerakan tangan sedikit saja bisa mempengaruhi mantra. Atau jika ingin membuat makanan, kita harus membayangkan dengan jelas makanan apa yang ingin di makan. Kalau sihir sihir ringan seperti memindahkan barang hanya perlu mengucapkan mantra saja.

Huahhh, belum apa apa aku sudah di buat pusing.

Baiklah, aku akan mulai membaca kamus ini. Cari kata kata yang sering di pakai saja dulu.

.......


Rasa rasanya baru kali ini aku berangkat sekolah sepagi ini

Alasannya? Karena aku ingin menunggu Daniel. Aku tidak ingin nanti tidak konsentrasi pada pelajaran gara gara masih kepikiran padanya.

Aku duduk di bawah pohon di depan kelasku. Sekolah masih sepi, hanya ada beberapa anak yang memang biasa berangkat pagi. Dan sepanjang yang ku tahu, Daniel biasa berangkat pagi.

Tak perlu menunggu lama, sosok yang sangat ku rindukan akhirnya muncul. Berjalan santai menuju kelas kami. Aku bilang apa barusan? Rindu? Hahhh, sepertinya aku sudah mulai gila.

" Daniel.." Aku memanggilnya sambil berlari ke arah Daniel.

Dia hanya menoleh sebentar menghadiahiku dengan tatapan dingin lalu membuang muka. Daniel kembali berjalan lurus masuk ke kelas seolah dia tidak mendengar panggilanku.

Apa ini? Kenapa sikapnya berubah lagi? Apa si jutek Daniel sudah kembali? Lalu apa maksud perubahan sikapnya akhir akhir ini? Dia juga bilang mencintaiku kan? lalu apa ini?

" Daniel..." Panggilku lagi sambil menyusulnya masuk ke kelas.

Aku berdiri di hadapannya dengan sedikit terengah setelah berlari, sedangkan dia duduk santai di bangkunya sambil membaca buku bertingkah seolah tak ada aku di depannya.

" Aku minta maaf, kemarin aku pergi begitu saja ke dunia kegelapan tanpa pamit padamu dulu." Kataku.

Daniel masih tetap sibuk pada bukunya. Tak mempedulikanku sedikitpun.

" Maaf Daniel, kemarin aku panik. Alden kesakitan, jadi tanpa pikir panjang kami langsung ke dunia kegelapan. Aku lupa kalau kamu masih menungguku di istana peri." Kataku lagi.

Hening. Daniel masih tetap diam. Tak merespon sedikitpun kata kataku.

" Aku sedang bicara padamu!" Kataku dengan nada meninggi. Wajahku terasa panas. Aku tidak suka Daniel memperlakukanku seperti ini. Aku tidak suka Daniel kembali jutek padaku lagi.

Daniel menutup bukunya dengan santai. Lalu menatapku dengan tatapan dingin. Jantungku serasa berhenti berdetak melihat dia dengan tatapan dingin seperti itu.

" Lalu kenapa kalau kau sedang bicara padaku? Kau pikir kau ini siapa? Sampai aku harus mendengarkan setiap kata katamu?" Kata Daniel dengan nada bicara menghina.

Sakit!

Aku sudah tidak bisa membendung air mata yang dari tadi menggenang di pelupuk mataku.

Plakkk!!

" Keterlaluan." Kataku pelan setelah menamparnya keras.

Aku langsung berlari keluar sekolah. Entah aku mau kemana yang penting jauh dari Daniel.

- - - - - - - - - - - - - -


 Caith POV


" Kita mau kemana Ve?" Tanyaku pada Veon yang sejak tadi pagi merengek memintaku mengikutinya.

" Sebentar lagi sampai." Kata Veon yang terbang di depanku.

Wajahnya terlihat berseri seri. Sejak bertemu Kiara, Veon terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya. Saat dia di usir dari istana, dia benar benar kehilangan senyumannya. Aku setiap hari harus selalu membujuknya untuk bicara, memberinya lelucon agar dia mau tertawa. Tapi dia benar benar setia dengan wajah muramnya. Sampai suatu hari akhirnya dia luluh dan mau tersenyum kembali. Tapi aku tahu jauh di lubuk hatinya dia masih menyimpan kesedihannya sendiri.

" Ayo turun." Kata Veon membuyarkan lamunanku.

Yang kulihat di bawah kami adalah taman bunga milik ibu. Untuk apa Veon mengajakku kemari?

" Kenapa kita kesini?" Tanyaku pada Veon begitu kami sudah duduk diantara bunga aster.

" Kemarin aku dan Kiara ke seberang danau sana kak." Kata Veon.

" Lalu?" Tanyaku bingung.

" Kiara melihat taman bunga ini dan dia bilang ingin mengadakan pesta pengangkatannya sebagai ratu disini." Cerita Veon dengan mata berbinar bahagia.

" Benarkah?" Tanyaku tersenyum

" Iya kak. Kira kira apa ibu akan menyetujuinya?" Tanya Veon.

" Tentu saja Ve, biar aku yang bilang pada ibu." Kataku.

" Terima kasih kak."

....


" Siapa dia ibu?" Tanyaku saat menghampiri ibu yang duduk di taman.

" Dia pelayan baru Caith, namanya Dean. Dia nanti akan bertugas membersihkan kamar Veon dan melayani kebutuhannya." Jelas ibu. Ya, memang sudah lama sekali pelayan Veon diberhentikan, mengingat dia sudah lama tidak tinggal di istana.

Aku hanya menganggukkan kepalaku sekilas untuk sopan santun pada pelayan baru kami.

" Oh iya bu, Veon bilang Kiara ingin mengadakan pengangkatannya sebagai ratu di taman bunga milik ibu." Kataku.

" Benarkah? Ini kehormatan bagi kita. Kapan hari pengangkatannya Caith?" Tanya ibu.

" Ehm,, sekitar sebulan lagi. Tanggal 5 bulan depan kalau tidak salah." Jawabku.

" Sebaiknya kita persiapkaan semuanya dengan sempurna, kamu tanyalah pada Kiara pesta seperti apa yang dia inginkan." Kata ibu.

" Baik ibu. Aku pergi dulu." Kataku sambil berlalu pergi.

" Kenapa kamu masih disini Dean? kerjakan tugasmu." Kata ibu yang masih terdengar olehku.

- - - - - - - - - - - - -


Alden POV


" Sedang apa kamu Filia? Kakak sibuk, jangan ganggu kakak dulu." Sudah hampir setengah jam Filia mengacak acak kamarku tanpa henti. Entah apa yang dicarinya.

" Aku bosan kak. Aku ingin sekolah lagi. Di rumah tidak ada yang bisa di ajak ngobrol apalagi main." Rengek Filia sambil menggelayut di lenganku.

" Salahmu sendiri, kenapa tidak pernah mendengarkan ayah. Jangan mencoba sihir kuno lagi, tapi kamu tetap saja menghancurkan banyak hal." Kataku lembut.

" Filia cuma ingin seperti kak Elden, dia sangat hebat, bisa semua sihir kuno." Kata Filia.

" Dia jenius Filia, kamu lihat kak Alden juga tidak bisa kan? lagipula Elden juga latihan dulu bukan langsung bisa." Kataku.

" Kak, ajak Kiara kesini ya, Filia suka mengobrol dengannya. Dia sangat penyayang dan lembut pada Filia." Kata Filia kembali merengek.

" Kan baru semalam dia kemari adik manis." Kataku.

" Ayolah kak, kalau tidak mau aku akan menyihir kamar ini menjadi hutan." Ancam Filia sengit.

" Baiklah baiklah, tapi kalau Kiara tidak mau kakak tidak bisa memaksa." Kataku.

" Iya sana cepatlah." Kata Filia.

" Kiara." kataku pelan dan segera saja aku berpindah tempat.

....


hiks..hiks...hiks...

Suara tangis. Siapa? Kiara? Ini dimana?

 Banyak pohon dan bangku bangku taman. Mungkin ini taman di kota. Tebakku asal.

" Kiara.." Panggilku pelan.

Kiara segera menoleh. Terlihat wajahnya sembab karena air mata. Ada apa dengannya?

" Al? kenapa disini?" Tanya Kiara dengan suara sengau khas orang menangis.

" Kenapa menangis Kiara?" Tanyaku khawatir. Aku duduk di sebelahnya dan mengusap kepalanya lembut.

" Al..." Kata Kiara tak selesai karena dia langsung menghambur ke dadaku dan menangis sesenggukan.

" Menangislah..." Kataku sambil memeluknya pelan.

Kenapa dengan ratuku. Sangat tidak menyenangkan melihatnya sedih seperti ini.

" Al..." Panggil Kiara di sela tangisnya.

" Iya ratuku." Jawabku lembut.

" Aku benci Daniel." Kata Kiara lagi.

" Daniel? Kenapa? Apa dia yang membuatmu menangis Kiara?" Tanyaku.

" Dia kembali jadi Daniel yang dulu. Aku tidak suka dia jutek lagi padaku. bahkan,, sekarang dia lebih dingin dari sebelumnya. Aku tidak mau dia mendiamkanku seperti ini Al." Kata Kiara sesenggukan.

" Jadi kamu menangis karena Daniel mendiamkanmu?" Tanyaku.

" Itu... itu... tidak tahu... disini,, rasanya sangat sakit." Kata Kiara sambil menyentuh dadanya.

Aku memandang kedua mata Kiara dalam.

" Kamu mencintainya Kiara." Kataku.

" Eh?" Tanya Kiara tak paham.

" Rasa sakit itu, karena kamu mencintainya."


* * * * * * * * * * * * * * * *


to be continue ^_^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar