Minggu, 23 Juni 2013
Fairy Tale Chapter 19 The Dinner
Kiara POV
Aku mulai merasa panik saat ku dengar suara orang orang sedang mengobrol santai dari arah ruang keluarga di istana iblis ini. Aku mengeratkan pegangan tanganku di lengan Alden. Rasa gugup semakin menjadi jadi di dalam dadaku.
Lagi lagi aku harus menghadap raja dan ratu dunia lain seperti ini. Saat dulu berkenalan dengan raja dan ratu dunia peri, semua lebih mudah karena kejadiaannya terjadi secara tidak sengaja, sedangkan kali ini. Raja Anthoni -begitu katanya nama ayah Alden- secara resmi mengundangku kemari. Jelas aku jadi gugup. Apalagi melihat Alden berpakaian resmi seperti ini. Pasti anggota keluarga yang lain juga tak jauh berbeda.
" Siap?" Tanya Alden saat kami berhenti di depan pintu ruang keluarga.
Aku menghela nafas panjang....." Siap"
Alden membukakan pintu untuk kami dan... ruangan yang tadinya berisi suara suara obrolan ringan mendadak terhenti seiring masuknya kami ke dalam ruangan. Semua mata sekarang tertuju padaku. Ya,, hanya 4 pasang mata, tapi tetap saja bagiku ini membuat gugupku bertambah parah.
" Pernalkan, ini Kiara.. Ratu tiga Dunia." Aku menahan nafas saat Alden memperkenalkan diriku. Aku tak tahu, seperti apa iblis akan bereaksi. Ya.. Yang dari tadi membuatku gugup memang karena fakta bahwa mereka adalah "iblis". Walaupun Alden sudah menjelaskan tidak semua mereka jahat. Tapi tetap saja, harus berhadapan dengan "keluarga iblis" berhasil membuatku berkeringat dingin.
Aku menunduk santun memperkenalkan diriku.
" Silahkan duduk Kiara." Seorang wanita anggun -yang aku yakin adalah ibunda Alden- mempersilahkan aku duduk di kursi kosong di sampingnya.
Aku menoleh pada Alden meminta pendapatnya, dengan senyum geli Al mengangguk.
Aku langsung berjalan lurus menuju kursi di samping ratu tanpa menoleh sedikitpun. well, aku memang takut kalau saat aku mengedarkan pandanganku, aku akan melihat raja Iblis, meskipun aku yakin dia pasti jauh dari kata menyeramkan, tapi entahlah,, salahkan nenek moyang manusia yang selalu menggambarkan sosok iblis sebagai makhluk menyeramkan yang sekarang membuatku berada dalam ketakutan yang sebenarnya tak perlu.
" Jadi ini ratu Kiara." Suara berat yang berwibawa segera menyapaku ketika aku baru saja duduk di sebelah ratu. Aku menoleh ke arah sumber suara. " Suatu kehormatan ratu mau berkunjung ke dunia kami." Kata sang raja sambil memandangku lembut dan ramah. Garis garis rahangnya mirip dengan Alden. Mata dan cara tersenyumnya juga sama. Ketakutanku langsung menguap setelah di sambut dengan senyum sehangat matahari.
" Justru saya yang merasa sangat tersanjung karena raja sudi mengundang saya kemari." Kataku yang kemudian terkejut karena kata kata resmi yang baru saja keluar dari mulutku sendiri.
" Kiara, perkenalkan itu ayah dan ibuku. Raja Anthoni dan ratu Esme." Kata Alden dengan nada tak kalah resmi dariku.
Ratu Esme langsung memelukku dengan hangat, "senang bertemu denganmu Kiara." Alden benar, ratu Esme tak jauh berbeda dengan mama.
Raja anthoni datang menghampiriku dan mencium tanganku dengan lembut. " Semoga ratu nyaman berada disini." Ya,, tingkahnya bahkan sama dengan Alden.
" Dan ini kedua adiku Kiara, Filia dan Elden." Kata Alden sambil menunjukkan dua orang yang sedang duduk di sebelahnya.
Mataku membesar seketika ketika melihat pemuda tegap dan gagah yang duduk di sebelah Alden, bukan karena wajahnya yang luar biasa tampan, tapi... Wajahnya sama persis dengan Alden!
" Ya, dia saudara kembarku Kiara." Jawab Al yang melihat keterkejutanku. Oh,, tentu saja.
" Hai ratu." Kata Elden sambil berjalan mendekatiku. " Kamu jauh lebih cantik dari yang ku bayangkan." Kata Elden lalu dia mencium tanganku. " dan juga sangat manis." Lanjutnya sambil mengedipkan sebelah matanya. Oh oh oh, dia.... tipe penggoda.
" Minggir kak." kali ini Filia yang ada di depanku. Dia mendorong kakaknya ke samping dan langsung menarikku berdiri. " Ratu! Kau benar benar keren dan cantik." Katanya sambil memelukku erat. Aku memandang Al dengan tatapan "ada apa dengannya?" Tapi Alden hanya menjawab dengan tawa geli dan gelengan samar.
Filia melepas pelukannya padaku dan sekarang berganti dengan menggandeng kedua tanganku. " Ratu, aku sudah banyak membaca tentang ratu tiga dunia. dan kau tahu? rasanya benar benar menakjubkan saat hal yang biasanya hanya bisa di baca dalam buku tiba tiba berdiri di hadapanku. Hahhh, ratu harus sering sering kemari. Aku akan menceritakan banyak hal tentang dunia kegelapan." Kata Filia panjang lebar. Dia tipe orang yang cepat akrab. Dari sinar matanya aku sudah bisa melihat bahwa dia sangat ceria dan bersahabat. Dia tipe adik yang sangat ingin ku miliki. Sebagai anak tunggal, kadang kadang ada saat menyebalkan sendirian dan tak ada yang bisa di ganggu untuk sekedar mengusir kebosanan.
" Filia, kembali ke tempatmu." Perintah raja Anthony lembut.
" Tapi ayah,,,," Sanggah Filia.
" Biarkan ratu duduk dan kembalilah ke tempatmu." Kata raja tegas. Kali ini gadis kecil itu menurut dan duduk di antara Al dan El. Kalau di dunia manusia sekarang Filia mungkin sedang kelas 2 smp. Apa iblis juga sekolah ya? Haha entahlah.
" Jadi ratu Kiara, bagaimana perasaanmu saat tahu kalau kamu adalah ratu tiga dunia?" Tanya ratu Esme dengan sangat lembut. Cara bicaranya benar benar membuat orang lain nyaman untuk mengobrol lama dengannya.
" Ehmm, Takut. Itu yang ku rasakan." Jawabku dengan lancar, seperti aku sedang mengobrol dengan mama, tak ada kecanggungan sedikitpun walaupun kami baru pertama kali bertemu. " Berbeda dengan dunia peri dan kegelapan. Di dunia manusia peri dan iblis hanya di anggap mitos. Saat aku tahu bahwa semua itu nyata saja sudah membuatku cukup terguncang, apalagi kenyataan bahwa aku adalah ratu dari semua itu. Rasanya... Menakutkan!" Jawaku jujur.
Ratu Esme melingkarkan sebelah tangannya pada bahuku. Mengusapnya pelan berusaha menenagkanku. " Jangan takut ratu Kiara, akan ada banyak orang yang berada di sisimu. Membantu dan melindungimu." Kata ratu Esme lembut.
" Sudahlah, kenapa ruangan ini jadi berselimut sedih? Cerialah ratu. Kami mengundangmu untuk membuatmu senang." Kata raja Anthony. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
" Jadi, apa kamu sudah punya kekasih Kiara?" Hampir saja aku mengira Alden yang bicara, jika saja aku tak melihat bibir mana yang bergerak mengucapkan kata kata itu dan tak lupa mengedipkan sebelah matanya. Hahh, Elden!
" Belum." Jawabku jujur.
" Bohong ah." Kata El dengan senyum jahil.
" Kenapa kau pikir begitu? Aku bahkan belum pernah pacaran sekalipun." Jawabku. Terlewat jujur mungkin.
Ku lihat mata El melebar terkejut, sedang Al terlihat santai saja mendengar ucapanku.
" Wow cool." Teriak Filia tiba tiba. " Kiara, saat ku lihat kamu dengan dress seperti itu, ku pikir kau adalah gadis pesolek yang suka sekali kencan seperti pacar pacar Elden! Ternyata kau bahkan belum pernah pacaran! Aku semakin menyukaimu Kiara. Kamu sependapat denganku kan? kalau kita tidak butuh yang namanya laki laki." Kata Filia tanpa bisa di sela.
Aku hanya bisa tersenyum heran mendengar kata kata Filia, yahh dari caranya berpakaian memang terlihat kalau dia sangat tomboy, untuk ukuran seorang putri raja, harusnya dia memakai gaun cantik seperti yang ku kenakan ini, tapi dia malah memilih memakai celana jeans dan kemeja lengan panjang yang di gulung sampai siku. Tapi aku tak menyangka dia akan berkata begitu padahal dia punya dua kakak laki laki.
Filia langsung mendapat pelototan tajam dari kedua kakak kembarnya.
" Eh,, maksudku bukan laki laki pada umumnya, maksudku... kita tidak butuh pacar, benarkan Kiara?" Ralat Filia yang meringis takut di pelototi dua makhluk tampan di kedua sisinya.
" Kau masih terlalu kecil untuk bicara seperti itu, adik manis." Kata Alden gemas.
" " Kakak! Umurku sudah 28 tahun. Jadi berhenti memanggilku adik manis!" Kata Filia yang berhasil membuatku tersentak kaget. Ku kira dia masih berumur 15 tahunan. Tapi mana mungkin wajahnya masih semuda itu?
" Filia? benar umurmu 28? Aku saja baru mau 17. Kau bahkan terlihat lebih muda dariku." Tanya penasaran.
" Kiara, umur iblis dan manusia berbeda. Umur kami relatif lebih lama dari manusia. jika manusia hanya 80-90 tahunan. Kami bisa mencapai 160, bahkan ada yang sampai 200 tahun. Jadi, walaupun fisik kita seumuran, umurku 2x lebih tua darimu. Kau tahu? Aku berumur 35 tahu sekarang." Terang Alden. Hemm sekarang aku paham. Karena umur mereka relatif lebih lama, jadi perkembangan fisik mereka jadi lebih lambat.
Huftt, kenapa Elden dari tadi terus memandangiku????? Menyebalkan! Apa dia tidak tahu kalau dipandangi dengan intens itu bisa membuat orang tidak nyaman dan salah tingkah?
Aku membuang pandangan keluar jendela. Kalau tidak ada raja dan ratu di ruangan ini, aku pasti sudah melemparkan sepatuku tepat ke mata Elden agar dia berhenti memandangiku. Bukan dia tidak sopan atau apa, seumur hidup baru Daniel dan Veon yang memandangku dengan cara seperti itu. Aku tidak ingin bertambah 1 orang lagi yang akan menjadi beban pikiranku. Sekarang saja aku belum bisa menentukan sikap pada Veon dan Daniel.
Eh? Kenapa dari tadi di luar gelap ya? Tadi saat di dunia peri masih terang kan? Tadi saat aku baru sampai ke kamar Alden juga di sini sudah gelap.
" Maaf, kenapa di luar sudah gelap ya? Harusnya sekarang kan masih sore? Harusnya matahari belum tenggelam kan?" Tanyaku pada semua orang di ruangan ini.
Sejenak ruangan menjadi hening.
" Ratu Kiara." Raja memanggil namaku lembut.
" Ya?" Jawabku menoleh ke arah raja.
" Apa kamu tahu kenapa dunia kami di sebut dunia kegelapan?" Tanya raja Anthoni.
" Karena penghuninya adalah iblis?" Jawabku polos.
Raja Anthoni tersenyum kecut. " Kalau begitu harusnya dunia kami di sebut dunia iblis, bukan dunia kegelapan." Jawab Raja Anthoni.
" Lalu kenapa?" Tanyaku.
" Dunia kami di sebut dunia kegelapan, karena dunia kami memang gelap. Tak pernah ada cahaya matahari di dunia kami." Jelas raja Anthoni
Aku tertegun mendengar kata kata itu. Tak ada cahaya matahari? seumur hidup mereka dalam kegelapan?
" Semua bangsa iblis, tidak tahan terhadap matahari. Kami bisa mati kalau berada di bawah terik matahari langsung." Lanjut raja Anthoni. Ya, aku tahu bagian ini.
" Maka dari itu, ribuan tahun yang lalu, leluhur kami membuat perisai langit yang menyelubungi seluruh dunia iblis agar sinar matahari tidak masuk ke dunia kami. Sejak saat itu, dunia kami jadi gelap. Tak pernah tersentuh matahari. Makanya dunia iblis sekarang di sebut dengan dunia kegelapan." Kata raja Anthoni.
Aku terdiam mendengar cerita itu. Kalian tahu? duduk di bawah matahari pagi itu sangat menyenangkan bukan? Juga menyehatkan. Dan lagi, semua juga jadi terlihat indah di bawah sinar matahari. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku harus hidup tanpa pernah merasakan hangatnya cahaya matahari.
" Lalu,.. Bagaimana kalian hidup? Tanaman, hewan, bukankah mereka butuh sinar matahari? Darimana kalian mendapatkan makanan kalau bahkan tak ada tumbuhan yang bisa hidup di tanah kalian?" Tanyaku panjang lebar.
" Kamu lupa Kiara? Kami bisa sihir. Kalau hanya sekedar makanan. Itu perkara mudah." Jawab Alden. Oh.. tentu saja, bagaimana aku bisa lupa? Dengan sihir apapun bisa kau dapatkan.
" Sebaiknya sekarang kita makan." Ajak ratu Esme yang langsung di ikuti anggukan oleh semuanya.
Kami beranjak menuju ruang makan yang tak jauh dari ruang keluarga tempat tadi kami mengobrol. Ruang makannya tak terlalu besar, mungkin ini memang ruang makan khusus untuk anggota keluarga saja. Tapi.... ruangan ini benar benar menakjubkan! Apa kalian ingat film Harry Potter? Kalian pasti akan merasa sedang berada dalam film itu jika memasuki ruangan ini. Langit langit di atas ruangan ini di sihir menyerupai langit senja lengkap dengan burung camar yang terbang rendah menuju matahari terbenam. Aku akan mengira sedang makan malam di ruangan terbuka jika saja mataku tak melihat dinding yang mengelilingi ruangan ini.
" Kau suka?" Tanya Elden yang entah sejak kapan berada di sampingku. Aku duduk di samping ratu Esme, di unung meja ada raja Anthoni dan di seberangku Alden dan Filia.
" Sangat cantik." Jawabku.
" Itu hadiah ulang tahun untuk ibu dari kami." Kata Elden.
" Kami?" Tanyaku bingung.
" Aku, Alden dan Filia. Tentu saja ini ide kak Alden, karena aku bahkan seumur hidup belum pernah melihat yang namanya matahari. Kak Alden memberi bayangan pada kami seperti apa matahari, lalu kami bertiga membuatnya di atap ini. Cukup sulit karena kami harus menggunakan sihir kuno untuk membuat gambar ini terlihat hidup dan berganti suasana sesuai aslinya." Ya, burung camarnya benar benar terbang dan sesekali mengeluarkan suara.
" Berganti sesuai aslinya?" Tanyaku yang "lagi lagi" bingung.
" ya, saat pagi, siang sore malam. Atap ini akan berubah sesuai dengan waktu yang sebenarnya. Kalau kamu kesini pagi maka yang kamu lihat di atas sana adalah suasana matahari terbit." Jawab Elden yang terlihat mulai gemas dengan kelambananku.
" Ayo mulai makan." Kata Ratu Esme.
Dengan sigap para pelayan membukakan tutup makanan di depan kami, dengan sihir tentunya. Di meja makan terhidang aneka masakan jepang yang sangat menggoda lidahku. Dari teriyaki, sashimi, tamago dan teman temannya, terhidang manis di meja.
" Darimana kalian tahu kalau aku suka masakan jepang?" Tanyaku heran. Aku memang penggemar no.1 masakan jepang.
" Daniel tentu saja." Jawab Alden.
"Oh." Jawabku. Dan tanpa menunggu lama aku langsung makan dengan lahap.
- - - - - - - - - - - - -
Daniel POV
" Kiaraaaa!" Ahhh aku benar benar frustasi.
Bagaimana bisa dia pergi begitu saja dengan Alden padahal dia tahu kalau aku masih menunggunya di istana. Hanya meminta Veon untuk menyampaikan pesan padaku. Apa dia benar benar tak punya perasaan apapun padaku? Bahkan setelah dia tahu aku mencintainya, dia tetap bersikap cuek seperti itu?
Ahhhhhhh
.....
Ini yang ku takutkan..
Apa dia mulai merasa tidak nyaman bersamaku dan mulai menghindariku?
.....
Sakit Kiara.... Perlakuanmu membuat hatiku sakit....
- - - - - - - - - - - - -
Elden POV
" Berminat untuk menginap?" Tanyaku pada Kiara saat kami sedang duduk di teras di samping ruang makan.
Kiara diam memandangku cukup lama tanpa bersuara.
" Kau bercanda?" Tanya Kiara sambil mencibir. Wajahnya jadi terlihat sangat lucu.
" Tentu saja tidak, ada banyak kamar tamu disini, lagipula,, kamarku cukup luas jika kau tak ingin tidur sendirian." Kataku sambil tersenyum jahil.
Ouchh, Kiara langsung menghadiahiku dengan pukulan di bahu dan tatapan membunuh.
" Kau dan Alden. Wajah kalian sama persis. Tapi bagaimana mungkin kau bisa sangat kurang ajar sedangkan Al bersikap sangat manis." Kata Kiara sengit.
" Hahaha, kau tahu aku hanya bercanda Kiara." Kataku ringan.
" Dan candaanmu sangat tidak lucu El!" Kata Kiara yang masih setia dengan wajah cemberutnya.
" Masa? Menurutku sangat lucu." Jawabku sambil mengedipkan sebelah mata. Entah kenapa, Kiara selalu terlihat salah tingkah jika aku mengedipkan mataku padanya. Dia benar benar manis.
" Kiara..." Uh,,, Filia berteriak memanggil Kiara sambil berlari kemari. Mengganggu saja.
" Ada apa?" Tanya Kiara ramah. Sepertinya ratu menyukai adik perempuanku ini.
" Kiara, apa kamu mau belajar sihir bersamaku? Aku baru saja menemukan buku kuno...." Aku langsung memutus kata kata Filia.
" Tidak lagi Filia, terakhir kali kau mencoba sihir kuno. Kau hampir meruntuhkan separuh istana ini." Potongku.
" Benarkah?" Tanya Kiara dengan mata melebar.
" Ya. Dan hampir setiap hari dia menghancurkan barang barang dengan sihirnya." Tambahku.
" Aku tidak seperti itu kak." Filia merengut mendengar kata kataku.
" oh iya Kiara, apa kamu sudah bisa sihir?" Tanyaku.
" Belum." Jawabnya sambil tersenyum. " Kata Alden aku sangat lambat. Dengan tenggang waktu yang tinggal sebulan harusnya aku sudah bisa sihir." Lanjut Kiara.
" Apa sudah pernah mencobanya?" Tanyaku.
" Eh?" Tanya Kiara tak mengerti.
" Sihir. apa lagi?" Tanyaku gemas.
" Sudah ku bilang aku belum bisa sihir." Kata Kiara tak kalah gemas dariku.
" Kamu tak akan tahu kalau belum mencobanya." Kataku. " Coba kamu arahkan tanganmu ke arah pot itu dan ucapkan feror."
Kiara hanya memandangku tak paham.
" Cepat Kiara, katakan feror." Pintaku lagi.
Kiara menurut, menangkat tangannya dan mengarahkannya ke arah pot di depan kami lalu "feror" Katanya lirih. Tapi tak terjadi apapun. Hemmm, memang benar benar belum bisa ternyata.
" Sudah ku bilang aku belum bisa sihir." Kata Kiara cemberut.
" Setiap pagi kamu harus mencobanya. katakan feror pada benda apapun yang ada di depanmu. kalau benda itu melayang berarti kamu sudah bisa sihir." Perintahku padanya. Kiara hanya mengangguk antusias.
" Kiara, sudah waktunya pulang." Kata kak Alden yang entah sejak kapan ada di sebelahku. AKu tak menyadari kehadirannya.
" Nanti kak. Filia belum puas mengobrol dengan Kiara." Kata Filia merengek.
" Tidak bisa Filia. Aku tidak mau besok Daniel marah marah karena terlambat mengantar Kiara pulang." Kata kak Alden. Air muka Kiara langsung berubah begitu mendengar nama Daniel.
" Baiklah ayo pulang, aku mau pamit dulu dengan raja dan ratu." Kata Kiara sambil beranjak pergi.
" Aku temani ya." sahut Filia yang langsung menyusul Kiara.
" El." Panggil kak Alden ketika kami sudah berdua di teras.
" Hem?" Tanyaku.
" Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menggoda ratu." Kata kak Alden.
" Aku tidak menggodanya." Kataku.
" Aku hanya tidak ingin kau terluka." Kata kak Alden sambil beranjak pergi...
Aku tak begitu paham apa maksud kak Alden.
* * * * * * * * * * * * * * * *
To be continue...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar