Rabu, 12 Juni 2013

Fairy tale Chapter 13 The wings




Alden POV


" Kau yakin Caith? Ingin mengubah peraturan tentang pemegang kunci yang tidak boleh menikah dengan ratu?" Tanyaku pada Caith.

 " Ehm." Katanya sambil mengangguk mantap. " Kenapa tidak."

" Tapi itu terlalu beresiko Caith. Peraturan itu di buat untuk mencegah perang itu terulang kembali."

" Kali ini berbeda Al. Hanya Daniel yang jatuh cinta pada Ratu, kita tidak kan? Jadi takkan terjadi perang hanya untuk memperebutkan ratu kita." Kata Caith masih kekeuh dengan pendiriannya.

" Apa kau pikir seribu tahun lalu para pemegang kunci jatuh cinta pada ratu? Menurutku tidak, mereka hanya menginginkan kekuasaan dengan memiliki ratu."

" Tetap saja, kita bertiga tidak seperti itu. Tidak akan terjadi apapun Al."

" Aku tidak setuju, itu terlalu beresiko. Aku tidak mau mempertaruhkan masa depan dunia ini hanya untuk perasaan satu orang saja."

Caith hanya diam mendengar kata kataku.

" Aku tahu kau Caith. Lebih dari segalanya, kau sedang memikirkan Veon kan?"

Caith masih diam, tak merespon kata kataku.

" Daniel bukan orang yang perlu di khawatirkan Caith. Dia selalu bisa mengatasi masalahnya sendiri. Kau paham benar itu kan?"

" Kalau kita membatalkan peraturan itu, dua masalah terselesaikan. Daniel bisa bersama dengan ratu dan Veon akan terjauhkan dari bahaya." Kata Caith akhirnya.

" Aku tetap tidak setuju! Daniel bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dan Veon, apa kau tega melihatnya hidup sendirian sepanjang hidupnya? Hidup tanpa cinta? Aku memang belum pernah jatuh cinta tapi setahuku itu hal yang sangat berpengaruh pada kebahagiaan hidup kita." Kataku tegas.

" Dia akan menemukan jodohnya Al. Saat dia bertemu dengan peri yang bersayap sama dengannya, dia akan langsung jatuh cinta dan melupakan ratu." Kata Caith dengan mata menerawang jauh.

" Apa kau tak ingin bercerita pada ratu Kayla? Bukankah hal ini belum pernah terjadi sebelumnya?" Tanyaku pada Caith. Ini bukan basa basi atau apa, aku benar benar peduli pada Veon. Kasihan dia. Dia selalu hidup di bawah bayang bayang kakaknya. Tak pernah di anggap. Aku seperti melihat adiku, Elden. Hanya saja elden sedikit lebih beruntung, dia cuek jadi tidak terlalu memusingkan sekitarnya. Lagipula dia jenius, Elden adalah penyihir paling hebat di dunia kami. Makanya ayah sangat bangga padanya. Sedangkan Veon, dia tak memiliki sesuatu yang menonjol. Dari kecil yang ku lihat dalam mata Veon adalah luka. Dia sangat sangat ingin dekat dengan ibunya seperti Caith. Tapi dia tak pernah bisa. Yang dia lakukan selalu saja terlihat salah, padahal dia hanya ingin memperlihatkan bahwa dia bisa.

" Tidak akan! Kau tahu seperti apa ayah dan ibu. Mereka sama sekali tak bisa mentolerir kesalahan. Aku tidak ingin membuat Veon lebi menderita lagi." Kata Caith dengan wajah keruh.

" Jatuh cinta itu bukan kesalahan Caith." Kataku.

" Memang, yang salah adalah dia jatuh cinta pada ratu." Kata Caith dengan wajah merah menahan tangis.

Caith dan Daniel itu sama di mataku. Mereka selalu menutupi rasa sayang mereka dengan sikap menyebalkan. Tak berani jujur di depan orang yang di sayanginya.

 " Tak ada yang salah di mataku! Dia hanya jatuh cinta, meskipun itu ratu, itu bukan kesalahan." Kataku berkeras.

" Kenapa kau terus membela Veon, Daniel juga jatuh cinta pada ratu, kenapa tak coba di tolong? Akan lebih baik jika ratu bersama Daniel. Kita hanya perlu membatalkan peraturan bodoh itu!" Caith terlihat tak dapat menahan lagi emosinya.

" APA YANG KALIAN BICARAKAN!!!" Tiba tiba terdengar bentakan dari belakang kami.

Terlihat ratu Kayla sudah berdiri di pintu kamar Caith dengan wajah penuh amarah.

Oh tidak, dia pasti mendengar apa yang kami bicarakan.


- - - - - - - - - - - -







Kiara POV








" Kiara pulang ma...." Kataku ceria saat sudah sampai di rumah sepulang sekolah siang ini.

" Cepat ganti baju terus makan ya sayang." kata mama lembut sambil mengusap kepalaku.

" Oke." Kataku sambil berlari lari kecil menuju kamarku.

Sesampainya di kamar aku langsung menggganti seragamku dengan baju yang lebih nyaman. celana pendek di atas lutut dan kaos berwarna hijau tosca yang berpotongan longgar.

Saat aku hendak membuka pintu kamar menuju ruang makan, tiba tiba rasa sakit yang luar biasa menyerang punggungku.

" Ahhh..." Jeritku spontan karena sengatan rasa sakit yang menjalar cepat ke seluruh punggungku. Rasanya benar benar nyeri, seperti ribuan jarum yang tiba tiba menusuk dalam ke semua saraf tulang belakangku.

" Ada apa sayang?" Tanya mama panik setelah mendengar jeritanku.

" Sakit ma." Jawabku sambil menahan tangis. Aku bahkan sudah tak mampu bergerak. Aku terduduk lemas di depan pintu kamarku.

" Ayo berbaring di ranjang sayang, mama bantu berdiri." Kata mama sambil mencoba memapahku.
Tapi seketika tubuhku kembali tersengat rasa sakit yang tak terperikan. Setiap punggungku bergerak, rasanya benar benar menyiksa.

" Kiara tidak bisa bergerak ma, sakit.." Kataku sambil menangis. Tak mampu lagi ku bendung bulir air mata yang dari tadi ku tahan di mataku.

" Mama panggil dokter ya sayang." Kata mama yang juga mulai menitikkan air mata, tak tega melihatku yang kesakitan.

" Daniel ma.. Panggil Daniel saja." Pintaku pada mama. Kalau perkiraanku benar, ini mungkin berhubungan dengan perubahan fisikku sebagai ratu.

" Iya sayang, mama telepon Daniel dulu." Kata mama sambil beranjak mengambil handphone ku yang tergeletak di atas tempat tidurku.

" Nak Daniel, cepat kesini sekarang, Kiara kesakitan." Kata mama saat telepon sudah tersambung dengan Daniel.

" Tante tidak tahu, cepatlah kesini. Kasihan Kiara." Kata mama lagi.

" Sabar ya sayang, sebentar lagi Daniel kesini." Kata mama setelah menutup sambungan telepon.
" Iya." Jawabku lemah.

" Ayo sayang, pelan pelan mama papah ke ranjang." Kata mama lagi.

Sambil mama memegangiku, aku mencoba berdiri. Lagi, rasa sakit itu kembali menyengat punggungku tanpa ampun.

" Mama sakit." Kataku sambil menangis di pelukan mama.

" Ayo sayang, sedikit lagi sampai ke ranjang." Kata mama mencba menguatkan.

Aku berjalan pelan sambil mama terus memegangiku agar tidak jatuh. Tubuhku sudah benar benar lemas.

" Sudah nak, sekarang angkat sedikit kakimu, mama bantu berbaring." Kata mama saat kami sudah di tepi tempat tidur.

Mama membaringkanku di tempat tidur. Saat punggungku menyentuh ranjang, sakit itu kembali menyiksaku.

" Mama sakit ma.. Kiara nggak tahan ma." Tangisku pecah. Bukan lagi rintihan sekarang sudah berubah menjadi jerit kesakitan.

" Sabar ya sayang.. Aduh, kenapa nak Daniel belum datang juga. Mama panggil dokter ya Kiara."
Mama beranjak keluar kamar untuk menelepon dokter. Sakit di punggungku semakin lama semakin menyiksa. Sampai akhirnya gelap yang terlihat. Kesadaranku hilang.

- - - - - - - - - - - -


Caith POV






" Cepat jelaskan apa yang kalian bicarakan?" Bentak ibu dengan wajah yang menurutku mengerikan.

" Apa maksud ibu, tidak ada apa apa bu." Jawabku mencoba berkilah.

" Jangan membuat ibu lebih marah Caith. Apa maksud kalian tentang pembatalan peraturan? Dan apa maksudnya Veon dan Daniel jatuh cinta pada Ratu? Apa itu? Kenapa kalian semua bertindak begitu bodoh." Bentak ibu dengan wajah merah.

" Ibu.. Itu... tidak.." Kata kataku terputus karena ibu segera membentakku.

" Cepat panggil Veon kesini." Kata ibu dengan penekanan suara yang membuatnya sangat menyeramkan.

Hahhh, ibuku benar benar mengerikan saat marah.

" Baiklah,," Jawabku menyerah. " Al, kau disini saja." Kataku pada Alden.

Aku segera membuka jendela kamarku dan mengembangkan sayap emasku lalu terbang menuju rumah Veon.

" Ahhh..." Terdengar jeritan di belakangku. Ohhh aku lupa pada kondisi Alden. Segera saja aku menyesal telah lewat jendela, bukan lewat pintu. Pasti sekarang kulitnya terbakar. Aku berbalik dan segera menutup jendela kamarku.

Aku terbang secepat yang ku bisa menuju rumah Veon. Saat rumahnya sudah terlihat, ku lambatkan kepakan sayapku dan mulai turun ke bawah. Tepat di depan pintu rumah Veon.

 Ku ketuk pelan pintunya. " Ve? Kau di dalam?" Tanyaku. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Apa dia tidak di rumah?

" Ve, ini aku Caith. Ayo buka pintunya." Kataku sambil terus mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban.

Aku coba memutar kenop pintu dan.. terbuka. pintunya tak terkunci seperti dugaanku. Anak itu memang ceroboh. Rumah terlihat lengang, pergi kemana anak itu!

" Kakak...." Tiba tiba terdengar rintihan. Itu... suara Veon. Aku langsung menuju kamar Veon dan betapa terkejutnya aku melihat kondisinya.

Matanya hitam dan bengkak. Dari dalamnya terpancar kepedihan yang mendalam. Kulitnya pucat dan kering. Dia pasti tak makan berhari hari. " Oh,, adikku. Apa yang terjadi padamu.

" Ve.. kau kenapa?" Tanyaku lembut.

" Aku rindu... Aku ingin bertemu Kiara..." Jawabnya lemah.

" Sudah ku katakan, kau tak mungkin bersama ratu Ve. Itu mustahil." Bentakku padanya.

" AKu tidak peduli kak. aku hanya ingin bertemu dengannya." Jawabnya memohon.

" Kenapa kau selalu seperti ini, selalu melakukan hal bodoh." Kataku sambil terisak. Rasanya sangat pedih melihat adiku seperti ini.

" Kiara..." Rintihnya pelan.

Aku menangis dalam diam. Veon.. kenapa kamu jadi seperti ini.

" Ve.. Ibu memanggilmu ke istana. DIa tidak sengaja mendengar pembicaraanku dan Alden. Sekarang dia tahu kalau kau mencintai ratu." Kataku pelan. Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan ibu lakukan pada adiku.

Veon diam tak merespon.

" Maafkan kakak Ve." Kataku sambil memeluknya. Tubuhnya kurus tak terawat.

" Kakak tidak salah, tak perlu minta maaf." Katanya pelan.

" Ya sudah, ayo ke istana." Katanya lagi.

Kami berjalan beriringan menuju pintu. Berkali kali dia hampir terjatuh karena tubuhnya sudah sangat lemah.

" Sudah berapa hari kau tidak makan Ve?" Tanyaku akhirnya.

" Aku tidak ingat kak." Jawabnya lemah.

Saat kami sudah berada di luar rumah, aku bergegas mengunci pintu. Segera ku kembangkan sayap emas kemerahanku, dan melayang rendah menunggu Veon.

Pelan Veon, mengembangkan sayap coklatnya yang gagah. Tapi sebentar saja terkulai lemas di belakang punggungnya. Ya Tuhan... selemah itukah dia sampai tak mampu mengendalikan sayapnya?
Aku segera turun dan menghampirinya.

" Sudah, masukkan lagi sayapmu. Ku gendong saja." Kataku.

" Tidak usah kak, aku bisa terbang." Kata Veon keras kepala.

" Mengembangkan sayap saja tak bisa mau terbang pakai apa?" Kataku sebal.

" Bisa kak." Katanya tak mau menurut.

" Sudah cepat Veon, ibu sudah menunggu kita. Sekali kali kau harus menurut kata kakak." Kataku.

Veon hanya diam. Tapi menurut untuk memasukkan kembali sayapnya. Perlahan ku angkat tubuh Veon. Ughh,,, Veon bahkan lebih tinggi dariku. Susah sekali menggendongnya seperti ini.

" Lingkarkan tanganmu di leherku Ve." Perintahku.

" Aku berat ya kak?" Kata Veon polos.

" Tentu saja." Kataku sambil mulai terbang kembali ke istana.

........

Kami sampai di depan pintu aula depan istana. Ku buka perlahan. Terlihat ayah, ibu dan Alden sudah duduk rapi di ujung ruangan. menunggu kami.

Ku papah pelan Veon memasuki aula. Tersirat sedikit khawatir di wajah ibu. Tapi segera di tutupinya.

 " Kak, aku bisa sendiri." Kata Veon sambil melepaskan tanganku dari bahunya.

Tapi baru 2 langkah, Veon hampir jatuh tersungkur jika aku tak cepat memegangnya.

" Biar aku saja." Kata Alden. " Provectus." Ucapnya mengeluarkan mantra sihir. Dan seketika Veon sudah berada di depan Alden.

Aku terbang rendah menuju tempat duduk di samping ibu, dan Veon duduk bersama Alden.

" Kau sakit Veon?" Tanya ibu lembut.

" Aku tidak apa apa bu." Jawab Veon lemah, hampir tak terdengar.

 Hening lama menyelimuti kami disini, ibu yang tadi terbakar amarah pun terlihat tidak tega setelah melihat kondisi Veon.

" Kenapa kau sampai seperti ini nak? Terbang pun kau tak bisa." Kata ibu penuh perhatian.

" Aku tidak apa apa... Hanya... Merindukan seseorang." Jawab Veon.

Bodoh! Kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Ibu pasti marah lagi karenanya.

" Apa maksudmu merindukan seseorang Ve?" Tanya ayah.

" Bukankah kalian sudah tahu?" Kata Veon.

Aishhh, anak ini benar benar membuatku stres. Bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu? Dia sengaja memancing amarah ayah dan ibu.

" Veon!" Bentak ibu dengan amarah kembali memuncak.

- - - - - - - - - - -


Daniel POV


" Tante, bagaimana keadaan Kiara?" Tanyaku begitu aku sampai di rumah Kiara.

" Sedang di periksa dokter nak, kenapa nak Daniel lama sekali?" Jawab tante Liana.

" Maaf tante, macet." Jawabku sekenanya.

Seperti mengerti keinginanku, tantu mengajaku menuju kamar Kiara.

Terlihat Kiara terbaring lemah tak sadarkan diri. Dokter sedang memeriksa denyut nadi Kiara dan meraba sepanjang punggungnya.

" Maaf bu, tapi anak ibu keadaannya baik baik saja. Tak ada kelainan apapun. Denyut nadinya juga normal." Kata sang dokter sambil bersiap pergi.

" Lalu kenapa anakku, tadi dia benar benar kesakitan." Kata tante Liana mulai terisak.

" Ini obat pereda rasa sakit. Berikan 2 butir setiap anak ibu kesakitan. Tapi sungguh saya tidak menemukan penyakit atau kelainan apapun pada anak ibu." Kata dokter itu.

Tante hanya mengangguk mengerti.

" Ya sudah saya pamit dulu bu." Kata sang dokter.

" Nak Daniel, bagaimana ini?" Tanya tante Liana penuh khawatir.

" Daniel akan coba bertanya pada teman Daniel dulu tante. Daniel juga kurang tahu tentang masalah ini." Kataku.

" Cepatlah nak, tolong Kiara."

" Baik tante, Daniel pergi dulu." Kataku sambil mengangguk hormat. " Alden." Bisikku pelan.

........

" Veon! Apa kau sadar apa yang kau katakan." Terdengar ratu Kayla sedang membentak Veon yang terlihat terduduk lemah tak berdaya.

Apa yang sedang terjadi disini.

" Daniel?" Sapa Caith yang menyadari kedatanganku.

Belum sempat aku menjawab sapaan Caith, ratu Kayla sudah menyambutku terlebih dahulu.

" Kebetulan kau datang Daniel, sekalian jelaskan padaku kenapa kau dan kau, Veon bisa lancang mencintai ratu Kiara?" Kata ratu Kayla dengan tatapan tajam menusuk padaku dan Veon.

Apa ini? Bagaimana dia bisa tahu perasaanku?

" Daniel?" Terdengar rintihan Veon yang tampak terkejut dengan ucapan ratu Kayla.

" Maaf ratu Kayla, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Tapi sekarang ada hal yang lebih penting yang harus kita dahulukan. Kiara sedang sekarat. Saya kesini untuk memanggil Caith dan Alden."

" Apa yang terjadi pada Kiara Dan?" Tanya Veon lemah, wajahnya diliputi kekhawatiran.

" Aku juga tidak tahu, Ayo cepatlah Caith, Al." Kataku tergesa.

" Aku ikut, kak aku ingin ikut. Aku ingin melihat keadaan Kiara." Kata Veon.

" Sampai kapan kau akan terus melanggar aturan seperti itu Veon!" Bentak raja Eferhard pada Veon.

" Aku tidak peduli ayah, setelah ini ayah boleh menghukumku atau memenjarakanku. Tapi sekarang aku hanya ingin melihat keadaan orang yang ku cintai." Kata Alden sambil mencoba berdiri.

Caith dengan sigap memegang Veon agar tidak jatuh. Dan tiba tiba mereka menghilang.

Apa apaan itu? Caith berani membawa Veon melewati gerbang antar dunia di depan ratu Kayla?

Ahhh, setelah ini pasti ada bencana besarrrrr.

Aku dan Alden juga segera undur diri dan berpindah ke tempat ratu.

.....

Saat aku tiba di kamar Kiara, terdengar isak tangis tante Liana.

" Sayang... apa yang bisa mama lakukan?"

" Sakit ma.." Terdengar suara Kiara merintih menahan sakit. Dia sudah sadar dari pingsannya.

" Kiara, kau kenapa?" Tanya Veon sambil mengusap sayang kepala Kiara.

" Veon??" Tanya Kiara di sela tangisnya.

" Iya kiara, aku disini." Jawab Veon mencoba menenangkan Kiara.

" Tolong balikkan badanku ma, punggungku sangat sakit." Kata Kiara kesakitan.

" Biar saya saja." Kata Alden mendahului tante Liana. " Pronus." Kata Alden dan seketika tubuh Kiara terbalik, sekarang posisinya tengkurap.

Tante Liana terbengong melihat putrinya tiba tiba berubah posisi dengan sendirinya. Tapi itu tak begitu di pedulikannya. Tante Liana mengelus pelan punggung Kiara berharap sakitnya dapat berkurang.

" Jangan sentuh ma, sakit." Pekik Kiara kesakitan.

" Maafkan mama sayang." Kata tante Liana dengan tangis yang semakin deras.

" Ahhhhhhhh." Tiba tiba saja Kiara menjerit kencang. Kami semua di buat terlonjak dengan teriakannya.

Perlahan.. Keluar sesuatu dari punggung Kiara dengan di iringi teriakan Kiara yang semakin kesakitan.

Hingga akhirnya terkembang sebuah sayap berwarna putih cerah.

ya... Sayap putih yang bersinar menyilaukan...

Detik berikutnya, ku lihat Veon jatuh tersungkur. Tak sadarkan diri.



* * * * * * * * * * * * * * *


to be continue






Tidak ada komentar:

Posting Komentar