Kamis, 06 Juni 2013

Fairy tale Chapter 2 The begining




Kiara POV

Aku sendirian.
cahaya putih ini seakan menelan semua hal di sekelilingku. Aku tak bisa melihat apapun. Hanya putih yang ada di sekelilingku.

- - - - - - - - -

Perlahan, cahaya terang itu mulai memudar. aku mulai bisa melihat sekelilingku. Aku mencari cari sosok tiga sahabatku itu, tapi... tak ada siapapun disini.
Tunggu.. Tunggu.. Tadi bukannya aku di Lapangan basket? Tapi ini?

Aku melihat sekelilingku. Di depanku terhampar  padang rumput yang luas. Ah bukan, tapi sangat sangat sangattttt luas. Di belakangku ada hutan pinus yang lebat dan terkesan menyeramkan. Aku bisa merasakan ada hawa jahat yang berhembus dari dalam hutan. Dan di kejauhan sana, terlihat ada bangunan yang mirip dengan kastil di negeri negeri dongeng itu.

Pertanyaannya.......

AKU ADA DI MANA??????????


- - - - - - - - - - -



Author POV


Kiara terduduk di rumput. Tubuhnya bergetar ketakutan. Selama ini, dia tak pernah sendirian. Kiara itu gambaran anak tunggal yang manja, ceroboh dan penakut. Dan sekarang dia berada entah dimana dan tak tahu bagaimana caranya kembali. Dia juga tak tahu bagaimana caranya bisa sampai disini.

Kiara tertunduk lemas. Dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Belum apa apa dia sudah frustasi. Semua terasa membingungkan baginya.

Lalu entah ide itu datang dari mana, seketika mata Kiara berbinar cerah

" HANDPHONE" Teriaknya kegirangan. Kiara langsung merogoh saku seragam sekolahnya dan mengambil benda yang 'mungkin' bisa menyelamatkannya ini. Dia langsung membuka contact list dan mendial nomor Sarah. Tapi yang terdengar hanya bunyi tutt tutt tutt. Kiara langsung memutus sambungan dengan sebal.
 
" No signal??? Sebenarnya ini dimana? kenapa signal saja nggak ada!!!"

Pendar putus asa kembali terbit dimatanya. Ia mendengus sebal. Kembali dia melihat sekeliling berharap ada keajaiban yang bisa membawanya kembali. Matanya kembali menatap "kastil" di kejauhan sana, di atas bukit yang sama hijaunya dengan tempat kiara berdiri. mungkin jaraknya sekitar 1km dari tempat kiara.

" apa ini di luar negeri ya? Kastil itu seperti bangunan bangunan eropa kuno. Apa aku sekarang di Spanyol? atau Inggris?"

Lagi lagi gadis berkuncir dua itu mendengus sebal.
 
" coba ada sarah, vina dan vani, aku nggak akan setakut ini."

" Guys, kalian dimana? Kenapa aku terdampar sendirian disini." Kiara mulai terisak. Mata bulatnya itu mulai menitikkan air mata. Lama dia terisak, tapi sedikitpun tak bisa mengurangi ketakutan yang menggelayuti hatinya saat ini.

Kiara menengadahkan kepala menatap langit. Isakannya sudah mereda. Pelan ia menghapus sisa sisa air mata disudut mata dan pipi chuby nya. Langit terlihat mulai memerah. Pertanda sebentar lagi akan berganti malam. gadis penakut itu semakin meringkuk duduknya. Dia benar benar benci gelap.

" Ini semua gara gara kalung Daniel jutek itu. Pasti cahaya dari kalung itu membuatku ada di sini." Seakan tersadar akan sesuatu, mata Kiara kembali berbinar cerah.

" KALUNG DANIEL." Saking kalutnya, dari tadi Kiara tak sadar kalau tangan kirinya masih menggenggam kalung berliontin bintang itu.

" Batu nya kembali berwarna biru." Kiara menggenggam erat kalung itu, berharap kejadian tadi terulang lagi.

1 menit

2 menit

3 menit

Tak ada apapun yang terjadi. Kiara memandangi kalung itu. warna batunya tetap biru. Tidak berubah merah seperti tadi. Juga, tak ada cahaya apapun yang keluar dari dalamnya. Perasaan putus asa kembali menyelimutinya. Matahari mulai turun ke barat. Tak banyak waktu yang di miliki kiara sebelum hari gelap.

" Disana pasti ada cahaya saat malam." Gumam kiara sambil memandang ke bangunan nun jauh disana. Kiara memantabkan hatinya dan mulai berjalan menuju kastil itu. Dia tak peduli apa yang ada disana nanti. Meskipun ketakutan memenuhi pikirannya tentang apa yang akan di temuinya disana.  Yang dia inginkan hanya tempat yang ada "cahaya"nya. Kiara benar benar benci gelap.

- - - - - - - - - -

Kiara berjalan secepat yang ia bisa. Tapi gelap datang lebih cepat dari yang dia perkirakan. Kiara baru mencapai setengah perjalanan menuju kastil itu. sekarang dia mulai berlari. Kedua tangannya memegang erat kalung dan handphone. Dia takut barang yang benar benar penting baginya ini akan jatuh saat berlari. Kiara berlari kencang. Bangunan itu mulai terlihat dengan jelas, hanya kurang beberapa ratus meter darinya. Ternyata itu adalah sebuah pedesaan ( dengan bangunan bangunan aneh ala eropa kuno.) Hanya saja kastil itu yang paling tinggi, jadi dapat terlihat dari jauh.

Kiara kalah cepat. gelap telah lebih dulu melingkupi sekelilingnya sebelum ia dapat mencapai desa. Nafasnya mulai berat dan sesak. Kiara benar benar benci pada gelap. Dia selalu tak bisa bernafas dalam kegelapan. Dia tetap berusaha berlari. Kiara menyalakan handphonenya untuk memberi cahaya. Dia berhenti sebentar sambil menarik nafas dalam. Cahaya hp nya cukup memberi terang hingga nafasnya normal lagi.

Kiara kembali berlari menuju pedesaan itu. Kurang sedikit lagi, tapi nasib sial masih terus mengikuti kiara.. Handphone kiara mendadak mati. Kiara terus memencet mencet tombol handphone nya, tapi tak ada reaksi.

" huftt, baterainya habis." Kata kiara di sela sela nafasnya yang kembali sesak. Gelap kembali menyelimutinya. Kiara tetap berlari, sedikit lagi. sedikit lagi. Dia terus menyemangati dirinya sendiri. Sampai akhirnya Kiara ambruk...

Tak sadarkan diri.

- - - - - - - - - - - -


Kiara mulai membuka matanya saat matahari pagi mulai menyusup melalui celah celah jendela kamar tempat ia terbaring sekarang. Sambil mengerjapkan matanya, dia melihat sekelilingnya. Yang dia tau ini sebuah "kamar". Meskipun di dalam ruangan ini hanya ada 1 ranjang dengan kasur (tipis), 1 meja kecil usang dan satu pot berisi bunga putih segar. Di sisi kiri ranjang ada jendela kecil. dan tak jauh dari situ ada daun pintu yang sedikit terbuka.

Kiara membuka jendela membiarkan angin segar masuk ke dalam ruangan itu. Dia melihat rumah rumah yang berjejer dari balik jendela. Semuanya bergaya eropa kuno.

" jadi aku masih di tempat aneh ini." Dia hanya diam menikmati pagi, seakan belum sadar sepenuhnya dengan keadaan di sekitarnya.

"huuufttttttt" Terdengar helaan nafas kiara yang dalam dan berat. Dia masih tetap diam. Tiba tiba sebulir kristal bening mengalir dari sudut matanya. dia mulai terisak


Kiara POV


hiksss

Aku lelah! Tempat apa ini sebenarnya. Bagaimana caranya aku pulang?

hiksssss hiksss

Gara gara kalung sekecil itu, sekarang aku berada dalam masalah besar.

" Ah,,, KALUNGNYA." Dimana kalungnya. Seingatku semalam aku menggenggam erat kalung dan handphoneku. Tapi sekarang keduanya tak ada. Di meja dan di kasur pun tak ada.

" tunggu!! Ini rumah siapa? Kenapa aku bisa ada di sini? Semalam kan aku pingsan di padang rumput????"

" kenapa pagi pagi kau sudah ribut nona? Aku masih ngantuk."  Cowok berperawakan tinggi besar itu tiba tiba nongol di pintu kamar. Mata coklatnya terlihat masih sangat mengantuk.

" ka..kau siapa?" Tanyaku agak terbata, bukan karena takut, hanya sedikit kaget. Meskipun aku penakut, aku mana mungkin takut dengan makluk sekeren ini? Seakan robert pattinson sedang berdiri di hadapanku. Hanya saja kulitnya kompakan dengan matanya, coklat.

" kau tak ingat? Aku yang menolongmu semalam. Kau tergeletak di luar perbatasan."

" ahh, begitu.. terima kasih." Ucapku sambil tersenyum semanis manisnya.

" ehm, tapi apa kau melihat kalung dan handphone ku? Semalam aku masih memegangnya tapi sekarang sudah tak ada."

" aku tidak melihat barang apapun. Mungkin terjatuh saat kau pingsan." Jawabnya acuh. Bagaimana ini? Kalung itu satu satunya petunjuk yang bisa membawaku pulang.

" Tapi, apa kau bisa mengantarku ke tempatku semalam? Aku sangat membutuhkan barang barangku itu." Kataku memasang tampang memelas. Jurusku ini selalu ampuh membuat orang luluh.

" baiklah ayo." Dia langsung beranjak keluar, aku mengikutinya dari belakang. Benarkan, jurusku memang tak pernah gagal.

" semoga saja bisa ketemu."

" tenang saja nona, jarang ada orang yang pergi ke luar perbatasan, apalagi sepagi ini. jadi barangmu pasti masih ada di sana. "

Sampai di depan rumah, aku tak melihat kendaraan apapun. Ya, aku tidak berharap ada mobil disana, tapi setidaknya ada kuda atau apalah.

" ehmm,, apa kita mau jalan kaki ke sana? "

" tentu saja tidak, tempatnya agak jauh. Melelahkan kalau berjalan kaki." Katanya sambil tersenyum simpul. Ohhh tidak... Senyumnya benar benar memikat.

" Terus? Kita naik apa? " Tanyaku sambil celingak celinguk mencari "kendaraan". Dia menatapku keheranan. Emang ada yang salah ya sama pertanyaanku?

" Kenapa? Apa kau terluka sampai tak bisa terbang?" Tanyanya yang semakin membuatku bingung.

" Terbang? " Apa lagi yang dia maksud? Apa mau naik helikopter?

Dia hanya geleng geleng kepala menanggapi pertanyaanku. Mungkin menurutnya aku sedang bercanda. Lalu sesuatu muncul dari balik punggungnya. Warnanya coklat muda bercampur sedikit warna hijau tosca dan kuning, membentuk corak yang indah. Bentuknya seperti sayap peri di buku buku dongeng yang dulu sering ku baca. kemudian dia.........


TERBANG !!!!!!

Apalagi ini?????????



* * * * * * * * * * * *


bersambung ya ^_^




Tidak ada komentar:

Posting Komentar