Sabtu, 22 Juni 2013

Fairy tale Chapter 17 the darkness





Kiara POV


" Rumah ratu terdahulu?" Tanyaku bingung.

" Iya.. Saat aku tahu kamu adalah calon ratu, aku sangat frustasi Kiara. Aku benar benar takut kalau aku tak bisa bersamamu. Apalagi setelah itu kita tak pernah bertemu. Rasa rindu benar benar menyiksa jiwa dan ragaku." Veon berhenti, menghela nafas dalam.

" Aku terus menyibukan diriku melakukan apapun yang bisa ku lakukan agar aku tak terlalu merasakan nyeri di hatiku. Aku banyak membaca buku tentang sejarah ratu tiga dunia, agar kelak aku bisa membantumu Kiara. Aku ingin melindungimu dengan kemampuanku sendiri." Jelas Veon

Aku diam, menunggunya melanjutkan cerita.

" Sampai akhirnya aku menemukan rumah ini, rumah ratu Reyna. Di dalam buku tidak banyak di jelaskan tentang rumah ini, hanya terdapat peta dan sebuah peringatan bahwa rumah ini di segel." Lanjut Veon.

" jadi, kita tak bisa masuk ke dalam?" Tanyaku.

" Rumah ini di segel agar tidak ada orang lain yang bisa masuk kecuali ratu." Jawabnya.

" Lalu, untuk apa kita kesini kalau kita tak bisa masuk ke dalam?" Tanyaku heran.

" Kiara, kamu adalah ratu. RATU! Jadi kamu bisa masuk ke dalam." Kata Veon gemas.

Sesaat aku terdiam. Benar, aku memang ratu tiga dunia.

Pelan, aku mulai melangkah menuju rumah itu. Rumah ratu Reyna di kelilingi pagar dengan tanaman merambat setinggi perutku. Aku memegang pintu gerbang kecil di tengah pagar itu lalu membukanya pelan.

Aku melangkahkan kakiku memasuki pekarangan tanpa tanaman itu hingga tiba tiba,,, tubuhku terpental ke belakang beberapa meter. Rumah itu menolakku untuk memasukinya.

Kenapa? Bukankah aku ini ratu? kenapa aku juga tak bisa memasuki rumah itu?

" ckckck, kamu belum sepenuhnya jadi ratu Kiara, Baru calon. Calon Ratu!" Kata sebuah suara di belakangku. Ini bukan suara veon. Ini suara...

" Kak Alden? Bagaimana bisa ada disini?" Tanya Veon pada sosok di belakangku. Aku terpental cukup jauh sampai melewati Veon yang berdiri tak jauh dari pagar.

" Aku ingin menemui ratu, saat berpindah, tahu tahu sudah ada di sini." Jawab Alden penuh senyum.
Veon dan Alden berjalan menghampiriku, dan dalam saat yang bersamaan, mereka berdua mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Aku melihat Veon dan Alden bergantian, tak tahu harus memilih tangan siapa.

Karena merasa tak enak, aku lebih memilih untuk berdiri sendiri, aku menopang tubuhku dengan kedua tangan dan bangkit berdiri dengan mudah.

" Ehmm.." Alden berdehem, terlihat sekali dia merasa tak enak dan salah tingkah. Veon hanya tersenyum canggung kepadaku.

" Jadi,, ada apa mencariku?" Tanyaku pada Alden.

" Tidak ada yang penting, hanya ingin melihat ratu belajar terbang." Jawab Al ringan.

" Kiara cepat belajar kak, aku baru mengajarinya sekali dan dia sudah bisa terbang sejauh ini." Jawab Veon menggantikanku.

" Benarkah? syukurlah kalau begitu." Kata Alden.

" Lalu, apakah aku tidak bisa masuk ke dalam rumah itu?" Tanyaku yang masih penasaran pada rumah di depanku.

" Bukan tidak bisa, tapi belum bisa Ratuku." Jawab Alden.

" Sebenarnya apa yang ada di dalam sana?" Tanyaku lagi.

" Hanya benda benda pribadi ratu Reyna. Tapi menurutku mungkin bisa membantu untuk membimbingmu menjadi ratu yang baik Kiara." Kali ini Veon yang menjawab tanyaku.

" Berarti perjalanan kita hari ini sia sia saja?" Tanyaku lesu, aku sudah terbang sangat jauh untuk sampai ke rumah ini tapi akhirnya aku bahkan tak dapat masuk ke dalamnya.

" Apa maksudmu sia sia Kiara? Bukankah kamu sedang belajar terbang? Hitung hitung ini untuk pengalamanmu." Kata Veon.

" Iya, tapi kan tak harus sejauh ini." Protesku sebal.

" Maaf, aku tidak tahu kalau kamu tidak bisa masuk ke sana. Ku pikir kamu pasti bisa masuk karena kamu ratu berikutnya." Jelas Veon terlihat sedikit murung.

" Sudahlah tidak apa apa. Aku hanya malas membayangkan terbang kembali ke istana, pasti sangat melelahkan." Kataku.

" Apa aku harus menggendongmu lagi Kiara?" Tanya Veon dengan senyum jahil yang menawan.

Wajahku langsung memerah ketika aku ingat dulu Veon pernah menggendongku. Dan aku tanpa rasa bersalah malah asik memandangi wajah tampannya. Sekarang aku tahu bahwa terbang itu sangat melelahkan apalagi kalau harus membawa seseorang untuk kau gendong.

" Aku bisa terbang sendiri." Kataku cemberut mencoba menyembunyikan rasa maluku.

" Tak perlu terbang, kan ada aku ratuku." Kata Alden tiba tiba dengan nada bicara seperti super hero yang datang menyelamatkan sandera.

" Lalu? Bagaimana kita ke istana kalau tidak terbang?" Tanya ku.

" Kemarilah, kau juga Ve." Kata Alden meminta aku dan Veon mendekat padanya.

Tanpa aba aba Alden memegang tanganku dan Veon, lalu berkata " Movens Arce." Dan sedetik kemudian, kami sudah berada di aula besar istana peri.

" Wahhh, menyenangkan sekali kalau bisa sihir seperti itu. Tak perlu lelah melakukan sesuatu." Kataku terkagum.

" Sebentar lagi ratu pasti juga bisa sihir." Kata Alden.

" Benarkah?" Tanyaku.

" Tentu, ratu adalah perpaduan dari tiga dunia. Manusia, peri dan kegelapan. Tentu saja ratu akan memiliki semua yang di miliki makhluk di ketiga dunia." Kata Alden.

Aku terdiam, ku perhatikan Alden dengan seksama. Sejauh aku mengenalnya, dia terlihat sama seperti manusia di duniaku. Tak seperti peri yang punya sayap, Dunia kegelapan punya ciri ciri fisik apa? Apa sama seperti manusia? Hanya saja mereka bisa sihir?

 " Kenapa melihatku seperti itu ratuku? Aku tahu aku memang tampan. Apa ratu sedang terpesona padaku?" Seringaian jahil Alden berhasil membuat pipiku memerah karena tertangkap basah sedang memperhatikannya.

" Aku tidak memandangmu! Dan lagi, aku tidak sedang terpesona padamu pangeran narsis!" Kataku cemberut. Kenapa hari ini mereka senang sekali menggodaku.

 " Hahahaha. Menyenangkan sekali menggodamu ratuku." Tawa Alden melihat reaksiku, sementara Veon hanya tersenyum simpul dengan pandangan yang sulit ku artikan.

- - - - - - - - - - -


Daniel POV


" Ahhh." Desahku sambil mengacak rambutku frustasi.

Kenapa kadang sang waktu berjalan sangat pelan? Aku merasa sudah berjam jam berada di sekolah, tapi bel pulang tak kunjung berbunyi juga.

Aku sudah tak berminat menghadapi buku buku yang entah apa isinya. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal. Menjemput Kiara. Aku sudah sangat merindukan sosoknya. Sedang apa dia sekarang? Apa sudah bisa terbang?

Biasanya aku selalu memandangnya yang duduk tak jauh dari bangkuku. Menyenangkan sekali mengamati segala ekspesi yang keluar dari wajahnya. Tapi sekarang tak ada yang bisa ku perhatikan.
Benar benar membosankan!!

Aku sama sekali sudah tidak bisa fokus pada pelajaran. Ku habiskan sisa waktu dengan mencoret coret buku sekenanya. Sampai akhirnya bel yang ku tunggu berbunyi juga.

Aku langsung menghambur keluar kelas dan bergegas mencari tempat yang sepi untuk menuju dunia peri. Aku tidak ingin membuat orang ketakutan karena melihatku yang tiba tiba menghilang begitu saja.

Ku genggam liontinku erat..

" Daniel..." Panggil sebuah suara di belakangku. Untung saja cahaya putih belum keluar, jadi entah siapapun yang memanggilku tidak melihatku yang tiba tiba lenyap.

Aku menoleh ke arah sumber suara, disana terlihat Vani, Vina dan Sarah. Sahabat sahabat Kiara.

" Ya?" Tanyaku tak sabar. Aku ingin segera bertemu Kiara.

" Kiara kemana? Kenapa tidak ke sekolah?" Tanya Vani.

" Di dunia peri. Ini aku mau menjemputnya." Kataku.

" Boleh kami ikut?" Tanya mereka serempak.

" Tidak bisa, maaf ya aku buru buru." Kataku sambil berjalan menjauh.

" Sampaikan pada Kiara bahwa kami menunggunya di rumah." Kata Sarah.

" Baiklah." Kataku lalu menghilang.

- - - - - - -,- - - - - - -


Kiara POV


" Kapan datang Al?" Tanya Caith ketika kami bertiga sedang berjalan beriringan menuju ruang makan.

" Belum lama." Jawab Alden ramah.

" Kalian kemana saja? Aku terbang berputar putar tapi tidak ketemu juga. Kamu tahu ini sudah lewat jam makan siang Ve. Bagaimana bisa kamu membiarkan ratu kelaparan." Kata Caith pada Veon. Aku sudah mulai terbiasa dengan cara Caith bicara pada Veon. Selalu marah marah.

" Aku tidak apa apa Caith, lagipula aku belum terlalu lapar." Kataku menggantikan Veon yang selalu terlihat takut pada kakaknya.

" Maaf kak, aku hanya mengajak Kiara berkeliling kota." Jawab Veon akhirnya.

" Ya sudah ayo makan." Ajak Caith.

Kami makan berempat. Raja dan ratu peri tak terlihat, mungkin sudah makan duluan. Aku tidak puas dengan hidangannya. Hanya sebutir buah apel, ini sedikitpun tidak bisa mengganjal perut laparku.

" Masih lapar ya ratu?" Tanya Alden ketika aku selesai menghabiskan apelku.

Aku hanya mengangguk. Sebenarnya malu meminta tambahan porsi, tapi perutku benar benar lapar setelah terbang sejauh itu.

" Maaf ratu, Daniel juga sering mengeluh dengan makanan kami. Katanya tidak mengenyangkan sama sekali." Aku tersenyum, itu sedikit mengurangi rasa malu ku.

" Cibus." Tiba tiba di depanku terhidang sepiring steak yang sangat menggoda selera.

Oh Alden... dia memang bisa di andalkan. Aku menatapnya dengan mata berbinar penuh terima kasih. Tanpa menunggu lama aku segera melahap steak di depanku di temani dengan obrolan ringan ketiga orang di sekelilingku ini. Hemm, sepertinya hari hariku jadi terasa ringan berkat mereka mereka ini. Aku sedikitpun tak merasa tertekan dengan posisiku yang sebentar lagi menjadi seorang ratu.

" Sedang makan ya?" Tanya sebuah suara tepat di sebelah telingaku.

" Daniel!" Pekik Alden yang langsung menarik Daniel ke dalam pelukannya.

" Al! Lepas. Menyebalkan." Sungut Daniel yang tak nyaman di goda oleh Alden.

Aku tersenyum geli melihat tingkah mereka. Alden memang seperti jembatan di antara tiga orang ini. Jika ada Alden, suasana jadi semakin meriah. Menyenangkan.

" Apa Kamu tidak merindukanku?" Tanya Alden dengan wajah cemberut yang sangat menggemaskan.

" Al Hentikan! jangan menggodaku di depan Kiara." Kata Daniel tak kalah cemberut.

" Kenapa?" Tanya Alden semakin cemberut pada Daniel. Kemudian pandangan Alden beralih kepadaku. " Ratuuu... Daniel membentakuuu." Kata Alden dengan nada manja yang sangat lucu. Aku tidak bisa untuk tidak tertawa. Tawaku langsung meledak mendengar kata kata Alden.

" Sudahlah Al, kasihan dia. Lihat Daniel sudah hampir menangis." Kata Caith sambil menahan tawa.

" Siapa yang hampir menangis Caith." Kata Daniel sambil melotot pada Caith. Aku senang melihat mereka. Terlihat sangat dekat. Aku senang bisa berada di tengah tengah mereka.

- - - - - - - - - - - - -


Author POV


" My lord." Kata sebuah suara ketika memasuki sebuah ruangan luas namun penuh dengan kegelapan. Di ujung ruangan duduk seorang perempuan mengenakan gaun indah yang mempertegas kecantikan dirinya.

" Ada apa?" Sahut perempuan itu dengan malas menanggapi lelaki tua yang baru saja memasuki ruangannya.

" Sang ratu telah muncul my lord." Kata lelaki itu dengan menunduk dalam.

" Ratu?" Tanya wanita itu kurang paham.

" Ya. Ratu tiga dunia." Jawab lelaki itu.

Wanita itu menegakkan tubuhnya. Pandangan matanya menajam dan bibirnya membentuk seringaian jahat.

" Kau yakin dia ratu tiga dunia?" Tanya wanita itu lagi.

" Saya yakin my lord. Saya melihatnya di depan rumah ratu Reyna dan lagi... sayapnya bercahaya." Jawab lelaki itu.

" Hahahahahaha...." Wanita itu tertawa dengan keras. Sampai dapat terdengar di seluruh kastil yang dia tinggali. " Akhirnya waktunya telah tiba. Segera cari tahu dia sudah menjadi ratu atau masih calon. Kalau ternyata kau terlambat dan dia sudah menjadi ratu, aku akan memotong kedua sayapmu Wirtz." Kata wanita itu dengan mata penuh kekejaman.

" Baik my lord." Jawab seseorang yang di panggil Wirtz itu.


- - - - - - - - - - - -


Kiara POV


Setelah kami selesai makan, kami berlima berpindah ke kamar Caith. Mungkin menurut kalian memalukan. Aku seorang gadis, masuk ke dalam kamar cowok bersama 4 orang cowok super duper keren. Tapi entahlah, aku merasa nyaman bersama mereka. Mereka takkan mungkin melakukan hal jelek terhadapku. Itu yang ku rasakan.

" Kiara, kapan ulang tahunmu yang ke tujuh belas?" Tanya Caith yang mulai bosan membolak balik buku dari tadi.

" Uhmmm, sekitar sebulan lagi." Jawabku.

" Wah,, sebentar lagi ya. Tapi kenapa sayapmu baru keluar? Kamu juga belum bisa memakai sihir Kiara. Ckckck perkembanganmu benar benar lambat." Kata Alden yang membuatku sebal.

" Mana ku tahu. Aku bahkan berharap kalau aku ini bukan ratu tiga dunia. Semua ini membuatku pusing! Juga... Takut." Kataku. Ya, aku memang takut. Entah seperti apa masa depanku nanti. Tapi firasatku mengatakan akan ada hal besar yang harus ku hadapi.

" Tenanglah... Ada aku disini." Kata Daniel sambil meremas pundakku pelan. Menenangkanku.
Aku tersenyum kepadanya, aku benar benar senang dengan perubahan sikapnya. Rasanya ada yang menghangat di dalam dadaku setiap kali Daniel menatapku dengan cara seperti itu.

" Ya, benar Kiara. Ada kami disini, siap melindungimu." Kata Veon yang langsung di ikuti anggukan cepat oleh Caith dan Alden.

Dadaku sekarang di penuhi dengan kebahagiaan. Orang orang ini,,, benar benar tulus menyayangiku. Serasa aku memiliki keluarga kedua.

" Jadi kamu ingin mengadakan pesta dimana?" Tanya Alden.

" Tentu saja di rumahku, aku biasa mengadakan pesta ulang tahun di rumah." Jawabku.

" Bukan pesta ulang tahun Kiara, tapi pesta pengangkatanmu menjadi ratu." Tanya Alden dengan gemas.

" Pengangkatan? Kapan?" Tanyaku bingung. Aku belum tahu apa apa soal pengangkatanku menjadi ratu.

" Daniel!" Alden melotot kepada Daniel. " Bukankah Kiara berada di bawah tanggung jawabmu? Kenapa kamu belum mengajari apapun padanya? Waktunya tinggal satu bulan lagi sampai dia resmi menjadi ratu." Kata Alden sebal.

" Bagaimana aku mau mengajari Kiara, dia setiap hari berpindah dunia kesana kemari." Kata Daniel membela diri.

" Kalau begitu kita ajari bersama sama saja biar cepat. Mulai besok kita adakan kelas tambahan untukmu ratu." Kata Alden dengan senyum khasnya.

Aku hanya tersenyum. Terlalu malas untuk menanggapi. Kepalaku penuh dengan batas waktuku sebelum menjadi ratu. Rasanya gelisah sekali. Aku benar benar punya firasat buruk.

" Kiara, ayo pulang. sudah sore." Ajak Daniel sambil menggenggam tanganku lembut.

" Baiklah." Jawabku. " Caith, Al, aku pamit dulu ya. Veon, besok kita belajar terbang lagi ya." Kataku.

" Siap Kiara." Jawab Veon dengan senyum lebar.

" Aku besok juga mau kesini ya. Sekalian memberi pelajaran tentang tiga dunia pada ratu." Kata Alden tak mau ketinggalan.

" Ya sudah kami pamit dulu." Kata Daniel sambil menggenggam liontinya.

Cahaya putih langsung membawa kami ke dunia manusia. Tepat di depan rumahku.

" Aku antar masuk." Kata Daniel sambil tetap menggenggam tanganku.

Aku hanya tersenyum dan mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Tak berusaha melepaskan genggaman tangannya.

" Kamu cantik Kiara." Kata Daniel tiba tiba yang langsung membuat kedua pipiku memerah.
Aku hanya bisa tersenyum malu. Daniel berhasil membuatku salah tingkah.

" Hahahaha. Benar benar menggemaskan." Tawa Daniel riang.

" Kiara..." Sapa mama begitu kami sampai di ruang tamu rumahku, yang langsung menyambutku dengan pelukan hangatnya. " Kamu baik baik saja sayang?" Tanya mama.

" Kiara baik ma..." Jawabku sambil tersenyum.

Segera ku alihkan pandanganku pada tiga sosok sahabatku yang duduk manis di kursi tamu di sebelah mama. Tiba tiba hatiku di liputi rasa bersalah begitu melihat sepasang mata yang sedang menahan tangis memandangku.

" Sarah...." Kataku pelan.


* * * * * * * * * * * * * * * *

bersambung ya ^_^






Tidak ada komentar:

Posting Komentar