Senin, 11 November 2013

Fairy Tale Chapter 30 War









Kiara POV



"Kenapa kak Caith belum kembali juga?" Veon mulai tampak gelisah karena sang kakak yang tak kunjung kembali dari dunia peri.

"Benar juga, Caith tadi ingin melindungi para orang tua, tapi kenapa tak langsung kembali kesini?" Elden menimpali.

Aku tiba-tiba terlihat tegang. "Lebih baik kita ke dunia peri sekarang, siapa tahu terjadi sesuatu disana."

yang lain langsung mengangguk setuju, dan kami semua segera menuju dunia peri.

--------------------


Istana dunia peri terlihat tenang dan normal. Rombongan kami bergegas menuju aula besar, memastikan keadaan baik-baik saja.

Disana berdiri sesosok peri yang tak ku kenal, sedang memandang kotak besar persegi panjang di depannya. Wajahnya terlihat puas dan... mengerikan...

Kotak itu... Seperti peti jenazah... Apakah...

"Bibi Lamia??" Veon berjalan maju menuju wanita itu. Seringaian jahat langsung terkembang di wajah peri bernama Lamia itu.

"Veon... Kemarilah... Lihatlah ibumu yang sudah terbaring kaku ini.... Hahahahaha...."

Kami semua langsung membeku mendengar ucapan wanita itu. Apa ratu Kayla sudah meninggal??

Bagaimana bisa?

Veon berjalan gemetar menuju peti itu. Wajahnya terlihat sangat ketakutan.

"Ibu..." Veon langsung terduduk lemas begitu melihat siapa yang ada di dalam peti mati itu.

"Ibu..... Ibu..... IBUUUUU!!!!!" Veon menangis sejadi-jadinya di depan jasad ibunya. Kami semua diliputi rasa pilu.

Ratu Kayla....

Tiba-tiba saja Veon terbang cepat dan menabrak tubuh Lamia. "Apa yang kau lakukan pada ibuku? Kenapa kau membunuh ibuku!!"

Lamia kembali menyeringai kejam. "Aku membencinya Veon. Makanya dia harus mati.."

Veon langsung terbakar amarah dan menyerang Lamia membabi buta. Tapi tak ada satupun serangannya yang mampu mengenai Lamia.

Aku melihatnya, Lamia mengeluarkan tobgkat sihir dari balik bajunya. Jadi dia juga penganut para iblis terkutuk itu....

"regrediendumque." Aku langsung merapalkan mantra untuk menarik mundur Veon. Aku tak ingin dia terluka.

Lamia memandang kami semua dengan dengan tenang. "Pergilah, aku tak ada urusan dengan kalian."

"Dimana kak Caith?" Veon berteriak marah.

Lamia kembali menyeringai. "Caith menjadi tawananku sekarang. Hahahaha... Pergilah, hari ini aku sedang senang jadi aku berbaik hati pada kalian. Sebentar lagi para iblis akan tiba disini. Kalian semua pasti akan mati kalau tidak pergi sekarang..."

Veon hendak kembali menyerang tapi Alden menahannya. "Kita pergi sekarang." Perintah Al tegas. Kami memang tak akan mampu jika harus bertempur lagi. Terlalu lelah. Jumlah kami pun semakin sedikit.

Elden langsung melakukan teleport dan membawa kami ke depan rumah ratu Reyna.

 "El, apa tadi mamaku bersama dengan Caith?" Tanyaku ketika kami sudah berada di depan rumah ratu Reyna.

"Ya.." Jawab Elden singkat. Papa langsung tertunduk lemas.

"Kiara... bagaimana kalau terjadi sesuatu pada mama..." Papa terlihat sangat sedih.

"Tenang pa. Kiara tak akan membiarkan iblis-iblis itu menyakiti orang yang tak bersalah lagi. Kiara pasti akan memusnahkan mereka."

Dadaku bergemuruh sesak. Kematian ada dimana-mana. Dan aku merasa tak berdaya...

Kuncinya adalah percaya Kiara...

Kata-kata Ratu Reyna kembali terngiang di dalam pikiranku. Tapi, dalam keadaan seperti ini, sangat sulit mendapatkan kepercayaan pada diri sendiri. Mereka terlalu kuat. Iblis-iblis itu mengambil terlalu banyak hal dari sisi kami...

"Kiara..." Alden menepuk bahuku pelan, menyadarkanku dari lamunan. "Masuklah, bawa kabar baik untuk kami.."

Aku memandang Alden dalam. Rajaku...

Alden menarikku pelan ke dalam pelukannya. "Aku tahu Kiara, kita semua juga sedang kalut sekarang. Tapi kita harus tegar dan berpikir jernih. Percayalah pada kemampuan yang tersimpan dalam dirimu. Kami semua disini akan membantumu sampai akhir." Al menenangkanku, mengelus pelan helaian rambutku.

Aku kembali memandang Al, mencari kekuatan disana. Alden tersenyum lembut.

"Masuklah, jangan pikirkan apapun, akan ku urus sisanya disini." Aku mengangguk pelan lalu beranjak kepada papa.

Ku peluk papa erat-erat dan menenangkannya. "Kiara pasti akan menyelamatkan mama pa."

Aku masuk ke dalam rumah ratu Reyna dan mereka langsung menghilang, mungkin ke dunia kegelapan.

-------------------


Author POV


Veon hanya diam tanpa ekspresi setelah pergi dari istana dunia peri. Dia benar-benar terguncang dengan kematian ratu Kayla.

"Sekarang kita susun strategi." Alden memberi instruksi.

Semua langsung duduk merapat dan menyimak setiap perkataan Alden. Dia memang memiliki aura seorang raja.

"Papa dan paman joseph lebih baik tetap tinggal di istana kegelapan. Lebih aman berada disini, besok kami akan bertempur besar-besaran. Aku yakin kelima iblis itu akan berada di dunia peri besok."

"Tapi Al, papa ingin menyelamatkan mama.." Ayah Kiara terlihat tidak setuju dengan keputusan Alden.

"Benar Al, bagaimana kami bisa duduk tenang disini sedangkan istri dan kami sedang dalam bahaya?" Ayah Daniel juga tidak setuju.

"Percayalah pada kami ayah, memang lebih baik ayah dan om tetap disini." Daniel mencoba ikut membujuk. Akan lebih sulit jika mereka harus berperang sambil melindungi orang-orang yang tak mampu menyerang. Lawan mereka adalah iblis. mereka kebal terhadap senjata.

Ayah Kiara dan Daniel tak punya pilihan lain kecuali menurut. Dalam hati mereka tahu keputusan itu memang tepat. Hanya saja mereka sangat khawatir...

"Lalu Daniel Veon dan Filia, kalian bertugas untuk membebaskan tawanan. Veon kau yang memimpin jalan dan filia kau yang memimpin pertempuran jika ketahuan musuh. Dan Daniel, kau harus langsung mengamankan mereka ke istana kegelapan jika sudah berhasil melakukan misi penyelamatan."

"Baik.." Veon dan Daniel mengangguk patuh.

"Kakak, aku ingin bertempur melawan iblis-iblis itu." Filia terlihat tak puas.

"Filia, kau bisa bergabung nanti jika misi pembebasan sudah berhasil. Sudahlah jangan membantah."

"Baiklah..." Filia mengalah.

"Lalu sisanya, aku, Kiara, Elden, ayah dan ibu akan langsung bertempur melawan musuh kita. Siapapun itu."

Semua orang menangguk mengerti.

"Alden..." Veon bersuara dengan nada datar.

"Ya?"

"Sisakan bibi Lamia untukku. Aku sendiri yang akan membunuhnya." Semua orang sangat terkejut mendengar ucapan Veon, dia yang selalu lembut dan ceria, berubah dalam sekejap...

"Tentu." Jawab Al singkat.

"Semoga ratu Kiara berhasil mengetahui mantra sihir tertinggi..." Raja Anthony berkata lirih.

"Pasti ayah,, kita tidak boleh ragu sedikitpun pada ratu. Dialah harapan terakhir kita." Alden menenangkan.

"Sekarang lebih baik kita beristirahat. Besok kita butuh tenaga dan konsentrasi penuh."

Mereka satu per satu bubar menuju ruangan mereka masing-masing untuk beristirahat. Meskipun mereka saling tahu. Tak ada yang akan bisa memejamkan matanya malam ini.

--------------------


Kiara POV


Aku menurunkan semua buku yang tertata rapi di rak buku kamar ratu Reyna. Mungkin saja di salah satu buku ini ada petunjuk tentang sihir tertinggi.

Hampir semua buku koleksi ratu Reyna adalah hukum dan peraturan di tiga dunia, dan beberapa buku pengetahun sihir secara umum. Aku hampir putus asa. Apa mantra itu benar-benar tidak ada? Lalu bagaimana aku harus mengalahkan iblis-iblis itu???

Kuncinya adalah percaya Kiara...

Lagi-lagi suara Ratu Reyna kembali bergema di dalam pikiranku.

Aku memilih untuk tidur, berharap semoga ratu Reyna kembali menemuiku di alam mimpi.

 percaya...

Apa aku bisa percaya pada diriku sendiri? Apa aku benar-benar mampu mengalahkan iblis yang sangat kuat itu??

---------------------


"Kiara...."

"Ah... ratu Reyna, akhirnya kau menemuiku..." Aku begitu lega ketika melihat sosok ratu Reyna berdiri di depanku, aku benar-benar membutuhkan bantuannya.

"Tampaknya kau belum mengerti dengan kata-kataku Kiara..."

"Ratu Reyna... Bagaimana caraku mengalahkan iblis-iblis itu? Mereka seperti tak bisa mati. Apa mantra khusus yang bisa mengalahkan mereka ratu?" Ya, aku memang sangat tak sabar untuk mengetahuinya.

"Kiara... Aku sudah mengatakannya padamu, kau... harus percaya pada kekuatan dalam dirimu."

"Iya ratu aku mengerti, setelah aku percaya pada diriku, mantra apa yang harus ku gunakan untuk mengalahkan mereka?"

"Jawabannya akan datang sendiri kepadamu begitu kau sudah bisa percaya seutuhnya."

"Apa maksudnya ratu? Kenapa ratu tidak membantuku?"

"Kiara... tidak akan ada gunanya aku memberitahumu... Karena yang bisa mengalahkan mereka adalah dirimu sebagai ratu, bukan dirimu sebagai gadis 17 tahun. Renungkanlah kata-kataku baik-baik Kiara, aku percaya padamu. Kau pasti akan mengerti."

"Ratu... Tunggu ratu.. Jangan pergi... Ratuuu..."

------------------


Sudah pagi...

Sekarang apa yang harus ku lakukan? Ratu Reyna tak memberitahu sedikitpun tentang mantra sihir tertinggi...

Percaya...

Aku adalah seorang ratu...

Ya, aku tahu ada kekuatan besar dalam diriku, tapi bagaimana cara menggunakannya...

Sihir tertinggi...

Apa mantra sihir tertinggi itu?

Tak ada di buku manapun...

Sihir tertinggi... Apa hal yang paling tinggi di dalam ilmu sihir?

Ahhhhhhhhhh, Aku hampir gila!!!

-------------------


Author POV


Rombongan itu terlihat bersiap di depan istana kegelapan. Terlihat Alden sedang memberikan pengarahan kepada mereka.

"Dari sini kita berpisah, Daniel Veon dan Filia, kalian langsung berpindah ke dalam penjara saja, berhati-hatilah. Aku yakin mereka pasti sudah mengantisipasi hal ini. Filia, kau harus terus bersiaga."

"Baik..." Mereka menjawab serempak. Meski tanpa perkataan, mereka semua sudah menghormati Alden sebagai raja tiga dunia.

"Berhati-hatilah..." Pesan raja Anthony kepada mereka bertiga.

"Caith.." Lalu Daniel, Veon dan Filia segera menghilang, menuju penjara dunia peri.

"Sekarang giliran kita. Kita jemput Kiara dulu di rumah ratu Reyna, lalu kita bergegas ke istana dunia peri." Alden kembali memberi instrksi.

"Kita harus waspada, jangan sampai lengah, mereka iblis yang sangat kuat." Ratu Esme terlihat sangat khawatir.

"Baik ibu." Jawab Al dan El bersamaan.

"Dan untuk kalian prajurit setia dunia kegelapan, kita akan bertempur sampai akhir, jangan simpan rasa takut di dalam hati. Demi kedamaian dunia." Alden mencoba membakar semangat prajuritnya yang hanya tinggal beberapa puluh orang.

"Untuk dunia...!!!!" teriak semua prajurit itu.

Dan mereka segera berpindah ke depan rumah ratu Reyna. Kiara belum tampak disana, sepertinya dia masih berada di dalam rumah.

"Hmmm akhirnya kalian datang juga. Kami sudah menunggu dari tadi..."

Alden langsung tegang, "Suara ini... Ken..."

"Bagaimana? Sudah siap bertempur?" Ken tersenyum lebar bersama empat iblis lainya menantang agar perang segera di mulai.

**************************


To be Continue ya....






Tidak ada komentar:

Posting Komentar