Senin, 11 November 2013
Fairy Tale Chapter 28 Preparing for the wedding
Kiara POV
Kami langsung menyiapkan acara pernikahan aku dan Alden. Tak ada pesta. Hanya upacara sederhana saja. Yang penting aku resmi menikah dan menjadi ratu sejati.
Aku mendapat laporan dari dunia peri kalau disana terjadi kerusuhan di beberapa tempat. Dan kami semua yakin itu pasti ulah kelima iblis itu dan bawahannya. Di dunia kegelapan nampak tenang sama halnya di dunia manusia. Tapi bagiku ini ketenangan yang janggal. Terlalu tenang, terasa mencekam untukku.
"Kau siap?" Alden menepuk bahuku pelan.
"Ya.." Aku tersenyum tipis padanya. "Al, maafkan aku..."
"Untuk?"
"Karena melibatkanmu dalam hal ini. Kita menikah tanpa cinta sedikitpun. Maaf karena aku memaksamu untuk hidup bersama orang yang tak kau cintai... Aku merasa tak enak padamu Al..."
Alden memegang kedua sisi bahuku. "Hei, justru aku senang Kiara, akhirnya aku bisa berguna untuk ratuku. Sedari kecil aku dididik untuk mengabdi pada ratu tiga dunia. Ini kehormatan untukku. Tak perlu merasa sungkan seperti itu."
"Aku tahu itu Al, tapi menikah harusnya atas dasar cinta, bukan rasa hormat atau kepentingan tertentu..."
Tiba-tiba saja Alden menarikku kedalam pelukannya. "Sudahlah Kiara, aku sungguh tidak apa-apa. Lagipula kita punya banyak waktu untuk belajar. Kalau setiap hari aku memelukmu seperti ini, tak perlu waktu lama kau pasti akan jatuh cinta padaku."
Aku langsung mendorong Al menjauh. "Al!! Jangan mencari kesempatan!!"
"hahaha" Senyum jahil terkembang sempurna di wajahnya. "Kau kan 'calon istriku' Kiara.. hahahaha." Dan dengan masih terbahak dia menghilang begitu saja ke dunia kegelapan.
"Huhh sepertinya hidupku ke depan akan menjadi jauh lebih berat. Kenapa aku bisa lupa betapa jahilnya Alden."
--------------------
Daniel POV
"Nak, keluarlah. Kamu belum makan dari pagi." Ibu tak henti-hentinya membujukku untuk keluar kamar.
"Nanti.." Jawabku malas.
Tidak, aku tidak mogok makan. Hanya saja aku memang tidak lapar sama sekali. Aku hanya ingin berbaring. Dadaku terasa sangat nyeri.
Ya, aku memang belum bisa menerima keputusan Kiara. Ini terlalu menyakitkan untukku.
"Daniel.ayah ingin bicara, buka pintunya.." Sekarang giliran ayah yang membujukku.
"Nanti saja ayah."
"Sekarang!" Nada bicara ayah berubah menjadi tegas. Itu artinya dia sedang tak ingin di bantah.
"Baiklah." Kubuka pintu kamarku yang sejak tadi siang kukunci rapat.
Aku ayah ibu dan jean duduk di ruang tengah. Oh jean, sudah lama aku tidak bermain bersamanya karena terlalu sering menghabiskan waktu bersama Kiara.
"Kakak, matamu merah." Jean bertanya dengan penuh kekhawatiran.
"Hah? Masa? Kelilipan mungkin."
"Jean masuklah dulu, ayah dan ibu ingin bicara dengan kak Daniel." Pinta ibu lembut.
"Baik ibu. Kakak nanti main sama Jean ya." Aku mengangguk menjawab permintaannya. Wajahnya langsung berseri kegirangan.
"Daniel." Ayah memanggilku dengan nada seriusnya. "Kami tahu bagaimana perasaanmu, tapi tolong jangan bertingkah seperti anak kecil. Kamu sudah terlalu dewasa untuk merajuk seperti ini." Tidak! Ayah tidak tahu apapun.
"Nak, apa kamu tidak memikirkan perasaan Kiara sekarang?" Sekarang giliran ibu yang bicara.
"Kamu pasti tahu kan, Kiara juga terpaksa mengambil keputusan seperti ini. Hatinya sekarang sama hancurnya dengan hatimu. Tapi lihatlah dia Daniel, begitu tegar. Begitu kuat. Kenapa kamu yang lelaki justru lembek seperti ini?"
Kepalaku tertunduk mendengar kata-kata ibu. Aku terlalu memikirkan sakit hatiku sampai aku melupakan kepedihan Kiara. Ya, ini juga pasti tidak mudah baginya. Aku tahu kami saling mencintai.
Aku langsung bergegas menuju rumah Kiara. Dia pasti membutuhkanku sekarang. Aku harus ada disisinya.
-----------------
Sarah POV
"Jadi, apa yang harus ku lakukan untuk menghancurkan Kiara?" Aku mungkin terlihat kejam. Tapi aku tak peduli lagi. Kiara sudah terlalu banyak tingkah.
"Sabar manis, nanti aku akan memberitahu kapan giliranmu tiba. Sekarang bersantailah dulu." Iblis tampan itu bersandar santai di kursi ruang tamu rumahku.
"Bisakah aku meminta sesuatu?"
"Apa yang kau inginkan sarah? Aku bisa memberikan apapun yang kau mau." Iblis itu tersenyum dengan sangat menawan.
"Kamu bisa membuatku menguasai sihir seperti Kiara? Aku juga ingin punya sayap."
Ken -iblis itu- tersenyum enteng. "Itu perkara mudah Sarah. Tapi sebelum itu, aku minta kau pergi menemui Kiara. Bujuk dia untuk membatalkan pernikahanya."
"Membatalkan pernikahan? Kenapa? Bukankah itu bagus kalau Kiara menikah dengan Alden. Maka aku akan punya peluang lebih besar untuk bersama Daniel."
"Tidak, itu tidak bagus Sarah, sangat tidak bagus. Sudahlah, jangan bertanya apa-apa dulu. Lakukan saja seperti yang ku katakan ya..."
"Tapi...."
"Sarah,,, aku berjanji akan membuat Daniel menjadi milikmu."
"Baiklah..."
--------------------
Kiara POV
"Nak, bagaimana dengan gaun pengantinmu? Acara ini terlalu mendakdak, jadi kita belum menyiapkan apa-apa." Mama terlihat sedih karena tak bisa menyiapkan pernikahanku dengan baik.
"Mama tenang saja, calon menantu mama itu bisa memberiku gaun pengantin hanya dalam hitungan detik." Aku tersenyum menenangkan.
Mama terlihat bingung dengan kata-kataku.
"Ma, Alden itu iblis, dia bisa sihir. Jadi kalau hanya masalah pakaian, itu hal kecil untuknya."
Mama mengangguk mengerti.
"Hahhh, pantas saja dari tadi telingaku gatal, ternyata kalian sedang membicarakanku." Alden tiba-tiba saja sudah ada di depan pintu kamarku.
"Al? Kapan datang?" Tanyaku.
"Baru saja, ibu memintaku memberitahumu bahwa persiapan pesta sudah selesai. Kami memakai aula istana untuk pesta kita besok. Tidak terlalu meriah, seperti yang kau minta."
"Nak Alden, bagaimana dengan gaun pengantin Kiara, kami tidak sempat menyiapkannya." Mama menyampaikan apa yang dari tadi menjadi ganjalan hatinya.
"Tenang ibu mertua, ibuku sudah menyiapkan gaun special untuk Kiara. Nanti malam Filia yang akan mengantarkannya kemari. Dia bilang mau menginap disini menemani Kiara."
"Filia mau menginap? Wahh, menyenangkan."
Alden tersenyum geli melihat reaksiku. "Aku sudah menebak kau akan mengatakan hal itu Kiara."
"Biar saja, aku memang senang kok." Jawabku.
"Kiara..." Tiba-tiba saja sesosok suara yang begitu ku rindukan muncul datang ke arahku. Daniel...
Alden dengan pengertian memberi jalan pada Daniel untuk mendekat ke arahku. Kami langsung berpelukan, sangat erat. Rasanya seperti sudah sangat lama kami terpisah jauh. Rindu yang benar-benar menyayat sukma.
"Maaafkan aku sayang. Harusnya aku lebih mengerti posisimu. Harusnya aku lebih memperhatikan perasaanmu, bukannya bersikap egois seperti ini."
Aku memeluk Daniel lebih erat lagi. Akhirnya dia mau mengerti... "Tidak apa-apa. Yang penting kamu ada disisiku sekarang..." Perasaanku jauh lebih ringan sekarang.
Daniel melepas pelukan kami dengan enggan. Lalu dia membawa tanganku dan menyerahkannya kepada Alden. "Mulai sekarang, tolong jaga dia untukku."
Alden menatap Daniel lega... "Tentu.."
"Kiara, aku akan tetap ada untukmu. Selalu..." Di kecupnya keningku pelan. Damai... itu yang kurasakan.
Gubrrakkk,,,
Kami semua menoleh ke arah sumber suara..
"Ahh,, maaf,," Sarah...
"Tidak apa-apa Sarah, kemarilah..." Kata mama lembut.
"Kiara,, aku,, aku kesini mau minta maaf karena sikapku kemarin. Aku sudah berkata kasar padamu..." Sarah berkata dengan gelisah.
Aku bermaksud mendekat ke arah Sarah dan memeluknya, tapi entah kenapa Alden menghentikan langkahku. Aku menggeleng pelan mengisyaratkan pada Al bahwa takkan terjadi apa-apa.
Aku tetap mendekat ke arah Sarah, tapi hanya menggenggam kedua tangannya. "Tidak apa-apa. Semua juga terkejut mendenga berita kemarin."
"Lalu.. Apa... kamu tak jadi menikah? Kenapa tadi aku melihat Daniel menciummu?"
"Ahh, tidak. Aku tetap akan menikah besok. Maaf aku tak bisa mengajakmu dan si kembar. Terlalu beresiko. Aku tidak mau kalian celaka nantinya."
" Uh, eh,, tidak apa-apa, aku pergi dulu.. Dah.." Lalu Sarah tiba-tiba berlari pergi begitu saja. Sepertinya ada yang dia sembunyikan.
"Kiara, aku merasakan ada yang tidak beres dengannya..." Alden berkata serius.
"Mungkin... Aku memnag sudah menyakiti hatinya Al.."
"Bukan,,, bukan itu. Ini,, firasat yang sama seperti saat aku melihat Carra dulu.. Entahlah.. Sepertinya dia berniat jahat."
Aku memandang Al tajam. "Al.. aku sudah mengenalnya dari umurku lima tahun. Tidak mungkin dia ingin melakukan hal jahat padaku."
Alden mengangkat bahunya acuh. "Entahlah, tapi itulah yang kurasakan."
"Sebaiknya kamu berhati-hati Kiara, jaga-jaga itu lebih baik." Daniel terlihat khawatir.
"Baiklah-baiklah.."
---------------------
Sarah POV
"Jadi bagaimana?" Iblis itu langsung menyambutku begitu aku keluar dari rumah Kiara.
"Kiara akan menikah besok." Jawabku singkat.
"Hei, bukankah aku memintamu untuk membatalkan pernikahannya?"
"Tidak mau, aku melihat Daniel disana. Kalau Kiara membatalkan pernikahannya, bisa-bisa Daniel akan kembali bersama Kiara. Biar saja Kiara nikah sama Alden."
"Gadis bodoh. Hah,, manusia memang selalu bodoh seperti ini."
"Terserah..."
"Siapkan dirimu Sarah, besok kita akan melakukan hal besar..." Iblis itu menyeringai kejam. Aku sadar. Pasti besok akan ada pertumbahan darah...
************************
bersambung.....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar