Gerimis!
Oh tidak, kencanku terancam batal. Aku
sudah mempermalukan diriku sendiri untuk hari ini. Tapi kenapa malah hujan.
Gimana mau sepedaan kalo seperti ini. Mendung di langit berhasil pindah ke
wajahku sekarang. Entah dapat dorongan dari mana, aku tetep mengeluarkan sepeda ke
jalanan depan rumahku.
“aku memang suka hujan, tapi bukan hujan yang ini.”
Gumamku sambil menengadahkan tanganku menampung air hujan.
“Terus sukanya hujan yang ini?” tanya Rain sambil
menunjuk wajahnya sendiri.
Entah sejak kapan dia ada di sampingku. Aku tidak
menyadari kehadirannya.
“kamu dateng! Emang kita jadi sepedaan? Kan hujan?”
Tanyaku tanpa menggubris godaannya.
“Cuma gerimis gini, nggak apa apalah basah dikit. Lagian
bau hujan kan enak” jawabnya.
“bau lagi!” gerutuku.
Rain hanya membalas dengan senyum.
“ayo berangkat.” Ajaknya.
Dan kami pun bersepeda santai menuju punjak
perkebunan ini. Angin dingin tak menyurutkan kayuhanku. Segar yang ku rasakan.
Di temani 2 hujan yang memberi sensasi berbeda padaku, hangat dan dingin.
Rain
tiba tiba mempercepat kayuhannya. Ngebut malah. Aku kewalahan menyusulnya.
Sampai di puncak dia hanya nyengir sambil bilang “loser”. Aku melongo
menanggapi ucapannya? Ya jelas kalah orang ngajakin balapan nggak bilang bilang.
Main kebut saja.
“ni, di minum.” Katanya sambil memberikan botol
minum padaku.
Aku yang tadinya mau ngambek karena di bilang loser
tanpa alasan nggak jadi membuka mulut, hanya tersenyum dengan perlakuannya yang
gentle bgt. Bagiku, cowok yang mau memperhatikan hal hal kecil itu cowok yang
gentleman.
Aku langsung menegak habis air dalam botol berukuran
sedang yang di berikan rain padaku, haus banget memang.
Sekarang giliran rain yang melongo melihatku
menghabiskan minumnya, memang jarang ada cewek bisa ngabisin air 1 botol
sekaligus.
“yahh nad, kok di habisin, kan aku belum minum.”
Protesnya masih dengan sedikit melongo.
“lho? Aku kira kamu masih punya 1 botol lagi.”
Jawabku polos tanpa rasa bersalah.
“Cuma 1 itu nad, lagian kamu cewek minum kok banyak
banget seperti itu, heran deh.”
“hehe, maaf maaf, anggap saja kita impas, tadi kamu
sudah balapan nggak bilang bilang, sekarang aku ngabisin minumanmu, impas kan.”
Kataku dengan nada bijak. “sok bijak” tepatnya.
“ impas sih impas, tapi masalahnya aku sekarang haus
bangettttttt.” Katanya menggerutu.
Aku hanya tersenyum menanggapi kata katanya,
wajahnya sangat lucu saat cemberut, seperti anak kecil.
“yee malah senyam senyum.” Katanya bete.
“iya maaf, terus mau gimana? Masa mau turun ke bawah
langsung? Kan masih capek.” Kataku berusaha mencari ide.
“ya sudah istirahat dulu, tapi nggak usah jalan2 keliling
ya, ntar jadi tambah haus.” Katanya mengalah.
“ya sudah, kita duduk2 saja disini.” Sahutku. Cowok
ini, sikapnya benar2 lembut.
Pagi
pagi gini udara di atas bukit tergolong dingin, tapi buat kami yang habis
berkeringat rasanya sangat segar. Apalagi suguhan pemandangan dari atas sini,
wuihhhh bikin betah deh. Suasana canggung mulai menyelimuti, kami duduk dalam
diam. Ini membuatku merasa tak enak hati, kan tadi habis ngabisin minumnya, kok
sekarang jadi diem gini.
“sekarang hausnya ilang sendiri kan?” kataku mencoba
bercanda.
Dia hanya membalasnya dengan senyum lemah, tak
bersemangat seperti tadi. Aku jadi tambah nggak enak hati. Hening lagi, kali ini
lebih lama dari tadi.
“ayo kita turun.” Katanya tiba tiba.
“hemm? Turun? Kenapa? Kan baru sebentar disini kok
sudah ngajak turun?” tanyaku tambah nggak enak hati.
“ nggak apa-apa, aku sudah keburu haus. Ayo.” jawabnya dengan
senyum yang sangat kelihatan kalau itu di paksakan. Apa dia marah? Cuma karena masalah
kecil seperti tadi? nggak mungkin ah.
“marah ya Rain? Maaf deh, aku nggak ada maksud mau bikin
kamu kehausan.” Kataku.
“siapa yang marah sih nad, kan sudah ku bilang, aku nggak papa.” Jawabnya dengan senyum yang masih di paksakan.
“terus kenapa mukanya jadi keruh gitu?” tanyaku
masih tidak puas dengan jawabannya.
Dia hanya menjawabnya dengan senyum lalu langsung
mengayuh sepedanya tanpa mempedulikanku.
Masih kaget dengan perubahan sikapnya,
cepat cepat ku ambil sepeda dan menyusulnya. Tapi aku tak dapat menyusulnya,
dia bener bener ngebut, sebentar saja banyangannya sudah tak kelihatan olehku.
Ku perlambat laju sepedaku, lelah. Sebenernya dia kenapa si, kok tiba tiba jadi
murung seperti itu. Aku menghabiskan sisa perjalan dengan melamun, cowok itu
bener bener berhasil menyita perhatianku.
********
Besoknya,
aku kembali ke perkebunan lagi. Harap harap cemas menanti rain. Aku harus dapat
penjelasan atas sikapnya kemarin. Maksudnya apa coba meninggalkanku begitu saja di
atas bukit? Kalau aku sampai celaka gimana?
“duhh, kenapa si Rain nggak muncul muncul juga sih, sudah
1 jam lebih aku disini.”gerutuku. nggak sadar ternyata ada pekerja kebun teh yang
ada di dekatku.
“lagi nungguin mas Rain ya non?” tanya pekerja itu
sambil cengengesan. Duhhhh, malu banget deh aku.
“hehe, ya gitulah pak.” Jawabku sekenanya.
“setahu bapak non, kalo hari cerah seperti ini mas Rain nggak jalan ke perkebunan.” Kata si bapak masih dengan cengengesan.
“masa sih pak? Memangnya kenapa?” tanyaku.
“ya bapak kurang tahu non, tapi memang seperti itu, kalau
cerah tuh nggak pernah kelihatan di sekitar sini. Kalo pas gerimis atau hujan baru
deh naik kesini. Pernah juga bapak lihat pas hujan gede banget mas Rain jalan
jalan sendirian di perkebunan, padahal dinginnya minta ampun non.” Cerita si
bapak panjang lebar.
Makin penasaran saja aku sama Rain. Misterius banget
si dia. Akhirnya hari ini aku pulang dengan teramat sangat kecewa. Berharap
besok hujan turun biar bisa ketemu Rain.
*******
Sudah
dua hari nggak turun hujan, mana liburan hampir habis lagi. Huftt, bisa bisa aku nggak akan pernah ketemu sama Rain lagi. Meski hari cerah, nadya tetep ke
perkebunan, mungkin saja beruntung.
Tapi
sudah di tunggu lama pun Rain nggak muncul. Apa dia bener bener Cuma kesini kalau
hujan? Aneh banget sih tu orang.
“si non, sudah di bilangin mas Rain cuma kesini kalo
hujan kok nggak percaya.” Tiba tiba bapak yang kemarin itu sudah nyeletuk saja.
“eh bapak, ya kali aja kan pak. Namanya juga usaha.”
Jawabku malu malu.
“samperin aja non ke villanya, dari pada nahan
kangen gitu.” Kata si bapak nyoba ngledekin.
“ye, bapak mah jahil banget. Siapa yang kangen coba.”
Jawabku sambil tertawa. Si bapak juga ikut tertawa melihatku yang tersipu malu.
“eh pak, emang bapak tau villanya Rain dimana?”
tanyaku.
“nah, katanya nggak kangen, tapi akhirnya tanya juga
kan?” kata bapak tak habis habisnya jahilin aku.
“ahh bapak, serius ni.” Kataku sedikit merajuk.
“itu tuh non, villa yang depannya ada pohon durian.
Disini cuma ada satu pohon durian, nggak ada lainya.” Jawab si bapak.
“ya sudah, makasih ya pak.” Jawabku sambil beranjak
pergi.
Tanpa buang waktu, aku langsung menuju villa itu.
Meski sebenernya malu, kesannya aku ngebet banget ya sama Rain. Tapi biarlah,
rasa penasaranku sudah mengalahkan segalanya.
“permisi.” Kataku sambil membunyikan bel. Tapi kok
sepi. Seperti nggak ada orang gitu. Aku coba berkali kali juga nggak ada respon. Apa
Rain sudah pulang kampung ya? Apa aku bener bener nggak akan ketemu sama Rain
lagi? Aku gelisah sendiri di depan villa Rain. Malas mau pulang.
“ cari siapa dek?” tanya sebuah suara.
“ahh, itu, cari Rain bu.” Jawabku pada perempuan yang
ada di depanku sekarang.
“oh, si Rain sama keluarga tadi pagi pergi ke rumah
sakit.” Kata ibu itu.
“emang siapa yang sakit bu?” tanyaku.
“ Rain dek. Tadi pagi pas ibu lagi nyapu di depan
rumah ibu, Rain di bawa pake ambulans ke rumah sakit, sepertinya sakitnya tambah
parah deh.” Jawab sang ibu.
“Rain? Sakit apa dia bu.” Tanyaku penasaran.
“aduh gimana ya, ibu nggak enak ngomongnya. Mending
ntar adek tanya saja sama keluarganya langsung.” Jawab si ibu.
“lho? Memang kenapa bu? Cuma kasih tahu sakit apa kok nggak enak.” Tanyaku tambah penasaran.
“iya ibu nggak enak saja. Sudah ya dek ibu tinggal
dulu.” Kata ibu sambil pergi ke rumahnya.
Memang Rain sakit apa ya? Parah? Kok sampai pakai
ambulans segala. Terus kenapa ibu tadi nggak mau kasih tahu ya? Memang sakit apa sih.
Bener bener deh orang satu itu nggak habis habisnya buat aku penasaran.
*******
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar