Senin, 22 Juli 2013

Fairy Tale Chapter 23 Serenity









Caith POV


" Jadi menurutmu bagus tidak kalau kita buat panggung kecil disini?" Aku bertanya pada Veon yang tepat berada di sampingku. Matanya mengedar ke seluruh taman mencari view yang cocok untuk di jadikan pusat pesta.

" iya benar disitu saja, nanti kita minta bantuan kak Alden untuk menghias pohon itu dengan sihirnya agar terlihat lebih cantik." Jawab Veon masih dengan memandang sekelilingnya.

" Baiklah, nanti kita beri meja-meja tempat makanan di bagian kanan panggung saja ya. oh iya, Kiara meminta kita memanggil peri hutan Ve, bagaimana menurutmu?"

" Peri hutan? Kak, kau kan tahu mereka tidak suka keramaian."

" Iya aku tahu, tapi susah sekali menolak keinginan Kiara. Ayolah, nanti kita bicara pada mereka ya, tugas mereka cuma terbang berkeliling taman kok, menyenangkan Kiara saja."

" Baiklah, setelah ini kita ke hutan ya." Wajah Veon terlihat berseri. Sepertinya dia bahagia sekali karena Kiara akan mengadakan pesta disini.

" Bagaimana kau dan Kiara? Ada kemajuan?" Tanyaku.

Veon menggeleng pelan, tapi wajahnya tetap bersinar bahagia. " Aku tidak mengharapkan apapun kak. Asal Kiara tetap ada di dekatku, itu sudah cukup. Lagipula, aku merasa Kiara lebih cocok dengan kak Daniel."

" Apa kau tak ingin mengejar kebahagiaanmu Ve?"

" Aku bahagia kak, sungguh! Bagiku, bahagia adalah saat aku melihat orang yang ku cintai bahagia. Meskipun bahagianya adalah bersama orang lain." Huftt adiku memang terlalu baik. Terlalu sabar, dan terlalu bodoh dan ceroboh.

Lama kami terdiam, menekuni tugas masing-masing di taman bunga ini, mencoba membuat taman ini secantik mungkin untuk pesta pengangkatan Kiara.

" Huaaaaahhhh" Terdengar teriak kegirangan entah darimana, suaranya jauh.

" Ve, kau dengar itu?"

" Iya kak, siapa ya?" Aku memberi isyarat pada Veon agar mengikutiku mencari sumber suara. Setelah berjalan cukup jauh, kami melihat seseorang di antara rumpun bunga tulip. Masih di hamparan taman bunga milik ibu, dan.. orang itu,,, seenaknya memetik bunga-bunga ibu tanpa ijin sama sekali.

" Hei kau! Lancang sekali kamu memetik bunga kerajaan tanpa ijin." Kataku ketika jarakku dengan orang itu cukup dekat. Dia seorang gadis.

Gadis itu terkejut dan menjatuhkan semua bunga yang baru di petik olehnya. " Pa..pangeran,,. Maaf... Maafkan saya.."

" Ayo ikut kami ke istana. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu pada ratu." Kataku tegas.

" Pangeran tolong jangan hukum saya." Gadis itu mengiba. "Saya hanya ingin memetik sedikit saja, saya sangat menyukai bunga tulip. Tapi di negara ini hanya di taman bunga kerajaan yang ada bunga tulipnya. Saya tidak mungkin terbang keluar negeri hanya untuk beberapa tangkai bunga tulip."

" Itu tidak bisa di jadikan alasan untuk membenarkan pencurian!"

" Pangeran, ampuni hamba." Gadis itu menunduk ketakutan melihatku yang mulai marah.

" Ayo ikut kami ke istana." Kataku tegas. Gadis itu gemetar demi mendengar dirinya akan di giring ke istana karena mencuri beberapa tangkai bunga tulip. Sebenarnya aku tak ingin menghukumnya. Aku hanya ingin memberinya pelajaran agar tak mengulangi perbuatannya lagi. Paling nanti dia akan di ceramahi oleh ibu. Aku yakin ibu tidak akan menjatuhnkan hukuman hanya untuk beberapa tangkai bunga.

Veon berjalan mendekati gadis itu. " Tidak apa-apa nona, ibu tidak akan menghukummu hanya untuk beberapa tangkai bunga. Ibuku tak segalak kak Caith, tenang saja." Kata Veon kepada gadis itu. Aku langsung memberi tatapan garang padanya. Veon hanya nyengir lebar menanggapi kemarahanku.

Perlahan gadis itu mengangguk dan menurut ikut ke istana. Aku terbang rendah mendahului untuk memimpin jalan. Veon bersama gadis itu membentangkan sayapnya dan terbang mengikutiku.

" Kakak... sayapnya...." Kata Veon terkejut. Spontan aku menoleh ke belakang dan melihat ke arah veon dan gadis itu.

Sungguh... Ini... Dia.... Gadis itu.... sayapnya... Sama persis dengan sayapku.

Aku terpaku di tempat. Memandang takjub padanya... Aku tak berpikir akan secepat ini bertemu dengan jodohku, apalagi dia yang datang mendekat ke arahku... Sungguh... Suatu keberuntungan.

Aku langsung melupakan kasus pencurian bunga tulip itu dan terbang mendekat ke arahnya. Merengkuhnya ke dalam pelukanku dan melepaskan rindu yang tiba-tiba memenuhi relung dadaku.

" Siapa namamu sayang?" Tanyaku masih dengan mendekapnya erat.

" Carra." Jawabnya lembut.

- - - - - - - - - -


Kiara POV


" Jadi kau menyuruhku kesini hanya untuk melihat ini Al?" Itu... Suara Daniel yang entah sejak kapan ada di kamar Alden dan melihat posisi kami yang pasti membuatnya salah paham.

" Daniel, ini tidak seperti yang kau bayangkan." Kata Alden mencoba menenangkannya. Alden berdiri mendekati Daniel, tapi Daniel langsung menghilang tanpa pamit sama sekali. Sepertinya dia benar-benar marah.

" Pasti sekarang Daniel tidak akan mau bertemu denganku lagi." Kataku lebih kepada diriku sendiri.

" Kejar dia Kiara, Bicaralah padanya meski dia tak mau mendengarkanmu. Ini liontinku, pakailah untuk mencarinya."

" Al.. Aku takut."

" Percayalah, kau pasti bisa." Kata Alden menguatkanku.

Aku mengangguk pelan dan segera menghilang dari kamar Alden dan sekarang aku berada di belakang Daniel, sepertinya dia belum menyadari keberadaanku.

Taman di sekolah kami.. Kenapa Daniel memilih tempat seperti ini sih. Aku jadi tidak leluasa untuk bicara padanya, bagaimana kalau ada temanku yang melihat? Malu kan!

" Kiara bodoh!" Umpat Daniel pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya karena aku tepat di belakangnya.

" Kamu marah?" Tanyaku.

Daniel terlonjak kaget mendengar kata-kataku yang tiba-tiba.

" Maafkan aku, tapi kamu salah paham, aku tadi hanya menenangkan Alden yang sedang sedih. Kami tidak ada hubungan apa-apa." Lanjutku.

" Aku tidak pernah minta penjelasanmu." Kata Daniel sambil beranjak pergi.

" Aku tahu, aku hanya tidak ingin kamu salah paham. Aku tidak ingin kita saling diam seperti ini Daniel. Aku ingin kamu kembali seperti sebelumnya. Daniel yang care dan terbuka dengan perasaannya."

" Hahh!! Terbuka dengan perasaanku? Kamu pasti menertawakanku kan? Apa kamu bangga? Veon, aku, sekarang Alden juga tergila-gila padamu." Kata Daniel sinis.

" Aku tidak menertawakanmu Daniel."

" Apa pedulimu? Ini perasaanku bukan perasaanmu!" Daniel membuang muka, wajahnya memerah, entah karena marah, atau sedih, atau malu?

" Tentu saja aku peduli!" Kataku yang juga mulai terbawa emosi. " Karena perasaanmu benar-benar penting untukku. Kamu tahu kenapa? Karena aku juga mencintaimu sampai rasanya aku hampir gila karena sikap dinginmu yang terus menyiksa hatiku."

Aku tak dapat lagi membendung tangisanku. Aku berusaha sekuat tenaga agar tidak terisak keras. Leherku sampai rasanya sangat sakit karena mati-matian menahan tangis.

" Kamu.. apa Kiara? Cepat katakan lagi.. Aku ingin dengar." Kata Daniel yang lebih menyerupai sebuah bisikan.

" Aku mencintaimu." Jawabku tak kalah pelan.

" Katakan lagi." Kata Daniel yang melangkah mendekat.

" Aku cinta kamu Daniel."

Satu langkah cepat dan Daniel memelukku erat. " Aku juga mencintaimu Kiara.. Aku sangat mencintaimu.. Maafkan aku, jangan menangis lagi, tolong maafkan aku."

Aku tak menjawab kata-katanya, hanya membalasnya dengan pelukan yang lebih erat.

Lama kami berdiam dalam pelukan yang membahagiakan. Tanpa suara. Tanpa Kata. Tapi kami saling tahu. Saat ini kami bahagia.

- - - - - - - - - - - - -


Author POV


Mereka tak menyadarinya

Kiara dan Daniel sama sekali tak tahu kalau ada sepasang mata yang menangis deras melihat mereka bersatu dalam cinta.

Sarah...

- - - - - - - - - - - - - - -


" Myrae....."

" Bagaimana kabarmu sayang... "

" Maaf, sudah lama aku tidak datang ke makamu, apa kamu rindu padaku?"

" Aku sangat merindukanmu Myrae, aku ingin sekali melihat senyummu seperti dulu."

Alden mengusap batu nisan di makam kekasihnya dengan sayang.

" Sayang, aku akan terus memegang janjiku... Menjaga cinta kita sampai aku mati. Sepertimu yang membawa cinta kita sampai mati."

" Maafkan aku yang tak mampu menjagamu... Dan.... Terima kasih sudah mengukir kenangan indah bersamaku."

" Aku akan terus mencintaimu... kekasihku..."

- - - - - - - - - - - -


Elden POV


" El... Bagaimana dengan tugasmu untuk mendekati ratu?" Tanya Ayah dengan suara berwibawanya. Ayah selalu menggunakan aksen berwibawa jika ingin menyuruhku, karena dia paham betul aku tak akan bisa membantahnya.

" Sudah ku laksanakan ayah. Sekarang kak Alden marah besar padaku." Jawabku sambil duduk malas di sofa di dalam kamar orang tuaku.

" Tak usah pedulikan kakakmu. Semakin lama dia semakin tak bisa di atur." Kata ayah jengah.

" Aku juga tidak suka di atur ayah, aku sudah terlalu dewasa untuk melakukan semua yang ayah inginkan. Aku juga punya jalan pikiranku sendiri. Hanya saja aku tak pernah bisa membantah ayah." Kataku jujur sambil beranjak keluar ruangan. Bosan juga mendengarkan ceramah ayah yang selalu sama setiap saat. Apa semua orang tua selalu begitu? Memaksakan kehendak kepada anaknya tanpa bertanya bagaimana keinginan mereka.

" Filia?" Ku lihat Filia berdiri berkacak pinggang di depan pintu kamar ayah. Apa dia mendengar percakapanku dengan ayah?

" Ikut aku!" Filia langsung menarikku menuju kamarnya. Lalu membanting pintunya dengan keras.

" Jelaskan padaku kak! Kakak mendekati Kiara karena suruhan dari ayah? Kakak mau mempermainkan Kiara?" Tanya Filia dengan mata melebar marah.

" Tenang dulu, sini duduk." aku membimbing Filia duduk di sampingku di atas ranjangnya. " Iya, kakak memang di suruh ayah untuk mendekati Kiara, tapi kakak tidak mempermainkan Kiara. Kakak mendekatinya sebagai teman, kau lihat sendiri kan, kakak hanya menjahili Kiara, tak berniat ber-romantis-romantisan sama Kiara." Jelasku.

" jadi kakak tidak menyukai Kiara?" Tanya Filia yang sudah mulai tenang.

" Tidak sayang, Kiara itu lebih menyenangkan di jadikan teman atau adik. Kakak tidak tertarik dengan tipe seperti Kiara."

" Sayang sekali, Filia lebih suka kak Elden sama Kiara daripada sama salah satu pacar-pacar kakak yang ganjen itu. Filia suka Kiara kak, Filia ingin Kiara jadi kakak iparku."

" Hahaha, kau ini. Minta sama kak Alden saja. Kak El lebih suka gadis yang sedikit keras dan cuek. Rasanya lebih menantang." Kataku sambil tersenyum lebar.

" Ah, kak Alden tak bisa di harapkan. Dia terus saja memuja Myrae yang sudah lama meninggal."

" Hush, jangan bilang begitu, kita harus menghargai perasaan orang lain."

" Iya-iya, Eh kak, kira-kira Filia bisa pacaran dengan kak Caith tidak?"

Aku langsung tersedang ludahku sendiri saat mendengar pertanyaan Filia. Dari sekian banyak pria, kenapa harus Caith? " maksudmu Caith pemegang kunci dunia peri?" Tanyaku.

Filia mengangguk bersemangat.

" Tentu tidak bisa Filia. Dia peri dan kau iblis. Carilah yang dari dunia gelap saja."

" Tapi kak Caith sangat tampan, wajahnya sangat menyenangkan. Kalau tersenyum seperti anak kecil, Filia suka kak."

" Suatu hari nanti kau pasti akan menemukan yang jauh lebih menawan dari Caith. kamu masih terlalu muda sayang."

Filia hanya memanyunkan bibirnya mendengar ucapanku.

" Sudah ya, kakak pergi dulu.

- - - - - - - - - - - - -



to be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar