Rabu, 03 Juli 2013
Fairy Tale Chapter 21 My First Magic
Alden POV
" Ada apa mencariku Al?" Tanya Kiara saat tangisnya sudah mereda.
" hem,, bukan hal penting. Filia ingin bertemu denganmu, sepertinya dia sangat menyukaimu." Jawaku.
" Filia?" Tanyanya dengan mata berbinar. Benar tebakan Elden, Kiara memang menyayangi Filia.
" Iya. Tapi kalau melihat keadaanmu sekarang, sepeertinya kamu butuh sendirian." Kataku lembut.
" Tidak tidak, sendirian hanya akan memperburuk suasana hatiku. Ayo ke duniamu." Ajak Kiara antusias.
" Tidak dengan wajah seperti itu ratuku." Kataku tersenyum geli. " Constituendum" Ucapku memperbaiki tampilan wajahnya yang berantakan karena air mata.
" Apa yang kamu sihir Al?" Tanya Kiara.
" Hanya menghilangkan bekas air matamu." Jawabku.
" Ya sudah ayo." Katanya tak sabar.
Aku merasa mendapat adik perempuan satu lagi, hahaha. Menggemaskan.
....
" KIARAAAA...." Teriak Filia begitu kami tiba di kamarku, berarti dari tadi Filia tak beranjak dari kamarku sama sekali.
" Sesenang itukah bertemu denganku?" Tanya Kiara tersenyum lebar.
" Tentu, disini semua sibuk, tidak ada yang mau mengobrol denganku. Ayo jalan jalan Kiara, akan ku tunjukan tempat tempat menarik di dunia kegelapan." Ajak Filia antusias.
" Di luar gelap ya?" Tanya Kiara.
" Iya, kenapa? Kau takut gelap?" Tanya Filia.
" Bukan takut, tapi aku selalu sesak nafas kalau di dalam gelap." Jawab Kiara.
" Tenang, kalau siang disini bunga lux bermekaran, jadi tidak terlalu gelap." Kata Filia.
" Bunga lux?" Tanya Kiara.
" Bunga lux adalah bunga cahaya, dia akan bercahaya saat mekar. dan mereka mekar pada siang hari dan kembali menjadi kuncup jika malam tiba. hampir di sepanjang jalan ada bunga lux, jadi kamu tidak perlu khawatir Kiara, atau kamu bisa minta Filia memakai sihir untuk menerangi jalan kalian." Jelasku.
" Menarik sekali dunia kalian." Kata Kiara dengan mata berbinar. Sepertinya dia sudah lupa dengan kesedihannya.
" Ayo Kiara." Ajak Filia tak sabar sambil menarik Kiara keluar.
" Ahh!!" terdengar jerit Kiara dan Filia dari depan, aku langsung berlari menyusul mereka.
" Ada apa?" Tanyaku panik. " Caith?"
" Hai Al, aku baru tiba disini, tiba tiba nona nona ini menjerit mengagetkanku." Kata Caith tersenyum.
" Kamu yang mengagetkan kami Caith." Kata Filia cemberut.
" Ngomong ngomong kenapa kamu disini Kiara?" Tanya Caith.
" Filia ingin bertemu Kiara, makanya tadi aku menjemputnya." Jawabku menggantikan Kiara yang terlihat enggan mengatakan alasanya disini. Kurasa dia tidak ingin membahas tentang tangisanya tadi.
" Ehm begitu."
" Lalu ada apa kamu mencariku?" Tanyaku.
" Siapa yang mencarimu? Aku mencari Kiara, tidak tahunya malah sampai di dunia kegelapan." Jawab Caith.
" Kenapa mencariku?" Tanya Kiara.
" Veon cerita padaku kalau kamu ingin mengadakan pesta pengangkatanmu sebagai ratu di taman bunga milik ibu. Aku sudah menyampaikannya pada ibu, dan beliau sangat senang. Aku kesini untuk menanyakan padamu pesta seperti apa yang kamu inginkan Kiara? Agar kami bisa menyiapkannya sebaik mungkin." Kata Caith.
" Ratu Kayla bersedia meminjamkan tamannya?" Tanya Kiara senang.
" Tentu, itu kehormatan bagi kami Kiara. Jadi pesta seperti apa yang kau inginkan?" Kata Caith.
" Ehmm, apa pengangkatan sebagai ratu harus ada upacara atau semacamnya?" Tanya Kiara.
" Tentu Kiara, itulah alasan di adakan pesta pengangkatanmu, upacara pengesahan sebagai ratu tiga dunia. kamu bisa mengundang siapa saja yang kamu inginkan." kataku.
" Siapa saja? Apa orang tuaku juga? teman temanku juga? Mereka bisa ke dunia peri?" Tanya Kiara antusias.
" Pada hari itu gerbang antar dunia terbuka lebar Kiara, kamu tidak perlu kunci atau kemampuan khusus pemegang kunci untuk bisa melewati gerbang. Siapapun bisa keluar masuk dengan bebas." Jawabku.
" Wah... menyenangkan sekali. Teman-temanku pasti senang bisa melihat dunia peri." Kiara terlihat kegirangan.
" Setahuku, gerbang di dunia manusia ada di belakang rumah Daniel." Kata Caith.
" Eh? Bukannya kita hanya perlu menyebut nama seseorang untuk berpindah tempat?" Tanya Kiara tak paham.
" Bukan Kiara, itu hanya berlaku untuk pemegang kunci dan kamu. Kalau yang lain harus melewati gerbang antar dunia." Jelasku. " Kalau di dunia kegelapan gerbang terletak di depan istana, kau lihat itu? disisi kiri air mancur itu ada gazebo. di dalamnya ada tiang-tiang berwana emas, itulah gerbang di dunia kami. Siapapun bisa keluar masuk dari sana. Tentu saja hanya bisa dengan ijin khusus ratu tiga dunia. Kecuali di hari pengangkatanmu, gerbang itu terbuka untuk siapa saja." lanjutku.
" Kalau di dunia peri, gerbang berada di dalam istana, ibu membuatnya menjadi pintu di aula besar istana. Meskipun ayah menentang karena menurut ayah gerbang antar dunia harus berada di ruangan khusus agar lebih aman, tapi ibu tidak mau dengar." Kata Caith.
" Dan di dunia manusia terletak di rumah Daniel?" Tanya Kiara.
" Ya. Kau main saja ke rumah Daniel kalau ingin memastikan." Lanjutku sedikit menggodanya. Tapi raut wajahnya tak berubah. Sepertinya Kiara sudah tidak sesedih tadi.
" Jadi? Ingin pesta seperti apa?" Tanya Caith lagi.
" Ehmm..." Kiara terlihat berpikir. " Pesta kebun yang terkesan lembut. Aku ingin banyak warna putih, makanan yang manis dan... apa ya...oh iya, acaranya siang atau malam?" Tanya Kiara.
" Itu terserah padamu ratu." Jawab Caith.
" Kalau begitu sore saja, aku ingin banyak peri hutan di sekitar taman, aku menyukai mereka." Kata Kiara ceria.
" Kau suka? well, sebenarnya mereka sedikit pemarah dan tidak suka keramaian. Tapi kalau kau ingin begitu, akan ku usahakan." Jawab Caith.
" Thanks" Jawab Kiara sembari tersenyum. Apa dia sadar kalau senyumannya bisa membuat semua lelaki menjadi gila? Kurasa tidak.
- - - - - - - -
Kiara POV
Aku tak kan pernah bisa membayangkan seperti apa hidup para iblis. Seharusnya sekarang matahari masih benderang di atas sana. Tapi disini... gelap. Tak ada bedanya dengan malam. Mereka hanya tahu jika siang tiba bunga-bunga lux bermekaran dan jika sudah malam, bunga itu kembali menguncup. Seumur hidup tak pernah melihat matahari. Benar benar menakutkan.
" Kita mau kemana Filia?" Tanyaku pada gadis menggemaskan di sampingku yang sedari tadi tak mau melepaskan gandengannya pada lenganku.
" Hutan Centrum." Jawabnya ringan.
Ohh, mendadak aku menjadi paranoid. Hutan selalu identik dengan suasana gelap dan menakutkan. Aku tidak suka itu. Baiklah kalau kalian menyebutku penakut. Tapi aku benar benar tidak suka.
" Apa tidak ada tempat lain yang menarik disini? kenapa malah ke hutan. Aku benci gelap Filia."
" Sebentar saja. Ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan. Ini sangat cantik, aku sangat menyukainya." Pinta Filia, aku jadi tidak tega untuk menolak.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak menuju hutan. Filia bilang aku harus lebih mengenal dunia kegelapan, makanya dia tidak mau menggunakan sihir agar lebih cepat sampai ke hutan. Jalanan disini hanya jalan setapak kecil, karena semua orang disini lebih suka berteleport untuk berpindah tempat tanpa harus lelah berjalan.
Model model rumah disini bermacam macam, ada yang sederhana, ala victorian, rumah panggung, minimalis juga ada, well mereka tinggal menyihirnya saja, jadi hal itu tidak sulit. Kesimpulanku penduduk dunia kegelapan pastilah kebanyakan cerdas dan punya selera tinggi. Karena sihir tanpa kecerdasan sama saja tak berguna. Karena mereka tak akan punya ide, hal seperti apa yang mereka inginkan. dan rumah rumah berbagai model ini cukup menjelaskan betapa kreativnya mereka.
Di sepanjang jalan banyak orang orang yang membungkuk memberi salam pada Filia, sepertinya dia putri raja yang cukup terkenal dan ramah. Dia banyak tersenyum kepada rakyatnya. Sungguh mengagumkan. Dia bisa terlihat berwibawa sekaligus ramah dalam waktu bersamaan. Apa nanti aku juga bisa seperti itu?
" Bagaimana kamu melakukannya?" Tanyaku pada Filia.
" Apa?" Filia terlihat tak mengerti.
" Kamu bisa terlihat berwibawa dan ramah di depan semua orang. Bagaimana caranya?"
" Caranya? Entahlah, aku sudah seperti ini sejak kecil. Tanya kak Alden saja, dia lebih jago kalau soal pelajaran kepribadian." Jawab Filia.
" Okay, baiklah."
Kami sudah mulai memasuki kawasan hutan. Sudah tak ada lagi rumah di sekitar sini. Meski pohon pohon masih jarang, tapi bunga lux sudah semakin sedikit, dan kegelapan mulai mengelilingi kami.
" Filia, bisakah kau buat tempat ini menjadi lebih terang?"
" Tentu." dia menggumankan mantra pelan dan keluarlah dua lampu kristal cantik yang melayang di sebelah kami, mengikuti setiap langkah kami. Ohhh.... Aku suka sihir.
Semakin masuk ke dalam hutan, pohonya semakin lebat. Well, pohon pohon disini termasuk dalam kategori "mengerikan". mungkin karena tidak pernah tersentuh matahari jadi pohon ini tumbuh secara tidak biasa, akarnya banyak terlihat agak tinggi. batangnya besar dan berlumut, hawa dingin terasa sangat pekat disini. ya.. aku takut!
" Kita sudah dekat Kiara." Kata Filia senang.
Meski samar-samar, dapat ku lihat remang cahaya di depan sana.
" Apa yang ada di sana?"
" Hutan!" Filia nyengir lebar. " Tapi ada yang berbeda disana, dulu aku pernah bereksperimen dengan sihir kuno dan menjebol perisai langit di depan sana."
" Lalu?" Tanyaku tertarik.
" Kak Elden memperbaikinya tapi perisai itu belum sempurna. Sudah di perbaiki berkali kali tapi tetap masih ada lubang disana sini. Tapi berkat itu aku jadi tahu,,, sinar matahari benar benar menakjubkan." Kata Filia sambil memandang ke atas.
Di depanku terhampar pemandangan indah. Aku yakin, ini satu-satunya tempat di dunia kegelapan yang ada tumbuhan "normal". Meski tak begitu luas, hanya sekitar 15 meter, tumbuh rerumputan dan bunga-bunga liar yang cantik. Udaranya juga segar. Berbeda dengan bagian hutan lain yang dingin. Ya, ini semua berkat sinar matahari yang menerobos di antara perisai langit yang berlubang di sana sini.
" Aku sangat menyukai tempat ini Kiara. Cahaya matahari membuat semuanya terlihat cantik. meskipun cahaya itu bisa membunuhku, tapi aku menyukainya." Kata Filia menerawang.
Aku hanya memandangnya dalam diam, tak tahu harus mengatakan apa padanya.
Kami duduk di atas rerumputan. Filia memilih tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.
" Sejak hari itu ayah tidak memperbolehkanku pergi ke sekolah. " Filia kembali bercerita. " Setiap hari aku hanya menghabiskan waktuku di istana. Kadang mengganggu kakak Al dan El. Tapi mereka juga sibuk dengan tugas masing masing. Makanya aku jadi sangat kesepian Kiara."
" Kenapa kau sangat tertarik dengan sihir kuno?" Tanyaku.
" Karena aku ingin jadi hebat. Orang-orang sering menyepelekan ku karena aku ini perempuan. Dan lagi kedua kakakku punya keahlian masing-masing. Aku juga ingin dibanggakan seperti kak Al dan El. Maka dari itu aku mempelajari sihir kuno. Dan yang aku sukai itu sihir-sihir untuk bertempur. Makanya semua mantra yang ku coba selalu menghancurkan sesuatu di sekelilingku, karena itu memang sihir untuk menyerang lawan."
Seperti tebakanku dia memang tomboy, perempuan pada umunya mungkin lebih memilih sihir untuk pengobatan atau hal-hal feminim lainnya, bukan bertempur.
" Sedang apa kalian disini?" Tanya sebuah suara dari belakang kami.
Aku dan Filia reflek menoleh ke belakang. Terlihat Elden sedang berjalan santai menuju ke arah kami. di tangannya ada setidaknya 4 buku tebal dengan sampul gelap. Dan oh... El memakai kacamata. Dia jadi terlihat lebih smart dan... tampan.
" Kak Elden ngapain kesini." Tanya Filia.
El menunjukkan bukunya. " Mau baca buku." Jawabnya sambil mengambil duduk di antara aku dan Filia, menyeruak ke tengah tengah kami yang padahal duduknya tidak terlalu jauh. Hasilnya? Kami duduk berhimpitan sekarang.
" Apa yang kau lakukan El." Kataku gusar sambil menggeser dudukku menjauh. Ku lihat Filia juga melakukan hal yang sama.
" Apa? Aku hanya duduk." Jawab El cuek.
El melepas kacamatanya dan mulai membaca bukunya dan kami bertiga terjebak dalam keheningan. Filia tampak begitu menikmati cahaya matahari. Dan aku menikmati wajah tampan yang terlalu sempurna di sampingku. Pesona iblis benar-benar berbahaya.
" Sejak kapan kakak tahu keindahan tempat ini?" Tanya Filia pada Elden.
" Sejak kau merusak perisai langit dan aku harus bolak balik memperbaiki tempat ini." Jawab El setengah menyindir.
" Tapi setidaknya kita jadi punya tempat yang sangat indah kan kak?" Kata Filia tersenyum bangga pada "hasil karya"nya.
El menutup bukunya dan memandang ke atas dengan nyamannya. mengamati setiap sinar yang berhasil menerobos masuk melewati perisai langit.
" Keinginan terbesarku adalah membawa ibu melihat sinar matahari. Ibu sangat menyukai keindahan. Dan sinar matahari adalah hal terindah yang pernah ku lihat." Kata El lebih kepada dirinya sendiri. Dia memang terlihat sangat menyayangi ibunya.
" Tentu kau bisa melakukannya El." Kataku menyemangatinya.
" Tidak, bahkan Alden pun tidak bisa. Hanya pemegang kunci yang bisa keluar masuk ke tiga dunia, tak bisa mengajak orang lain." Kata El lesu.
" Kata Alden, saat hari pengangkatanku nanti gerbang antar dunia terbuka untuk semua orang, jadi ratu Esme bisa melihat matahari di dunia peri atau di dunia manusia." Jawabku.
" Ah kau benar Kiara," Kata Filia bersemangat.
Tiba tiba saja Elden menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Kedua matanya memandang ke dalam mataku.
" Terima kasih Kiara. Terima kasih sudah hadir ke dalam hidup kami. Aku sangat bahagia." Kata Elden. dan kemudian...
CUP
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibirku.
Aku mematung! Terlalu kaget untuk bereaksi.
Elden mengacak acak rambutku gemas. " kau sangat manis Kiara."
" APA YANG KAU LAKUKAN!!!!" Aku berteriak jengkel pada El yang sudah seenaknya mencuri ciuman dariku.
" Apa? Aku hanya menciummu. Itu ciuman terima kasih." Jawabnya enteng. Iblis yang satu ini benar benar kurang ajar!!!
Dadaku bergemuruh oleh amarah! Entah apa yang ku pikirkan tapi ku harap sekarang aku punya kemampuan sihir agar aku bisa membuatnya kapok untuk menggodaku.
" Ceciderit!" Kataku tanpa sadar.
Dan seketika Elden terjatuh dari tempatnya duduk. kepalanya membentur tanah cukup keras.
" Auhh!!" Jerit El.
" Kiara? Kau sudah bisa sihir?" Tanya Filia dengan mata melebar.
*************
to be continue
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar